Kamis, 03 September 2015

Filled Under:

Remember

”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”
QS. Al-Kahfi : 28
~
Ayunan kuning yang berderit.
Perosotan yang basah.
Jungkat-jungkit yang berbunyi karena terkena air hujan.
Aku berdiri di sana, memperhatikan bagaimana air hujan jatuh membasahi rerumputan dan dedaunan yang jatuh, sebelum meresap masuk ke tanah. Aku memperhatikan betapa cepatnya awan kelabu bergerak tertiup angin. Aku memperhatikan bagaimana burung terbang dengan sayap-sayap mereka, semakin jauh ke langit. Aku memperhatikan bagaimana bulu burung itu jatuh sesaat setelah mereka terbang – meliuk-liuk, berputar, tertiup angin, lalu mendarat di tanah.
Aku memperhatikan hampir segalanya. Setiap detail dari sebuah kejadian – aku mengingat semuanya.
Aku ingat bagaimana ayah memukul ibu saat ia sedang mabuk. Aku ingat bagaimana besarnya emosi ayah. Kemarahan, kebencian, putus asa. Beliau menarik ibu ke ruang tengah, sedang aku di dorongnya masuk ke kamarku, membiarkanku mendengar semua jeritan ampun ibu, suara barang pecah, suara amuk ayah, teriakan ibu yang melengking hingga aku berdoa kepada Allah untuk memohon agar Ia menghukum ayahku.
Sebutlah aku anak durhaka, tetapi kalau kau berada di posisiku, terkunci dan tidak bisa melakukan apa-apa, kau pasti akan melakukan hal yang sama.
Senyuman pahit timbul di wajahku semakin aku mengingat semua kejadian itu.
“Ya Allah hukum ayahku!”
Ibu tidak pantas mendapat semua hal itu. Ibu tidak pantas mendapat semua hal yang ayah lakukan.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Ayah masuk membawa sebuah botol dengan terhuyung-huyung. Beliau melihatku, lalu wajahnya yang semula tampak lelah kemudian kembali memperlihatkan amarah dan kebenciannya. Ia kemudian memukul kepalaku dengan botolnya hingga botol itu pecah. Darah segera mengalir dari pelipisku, membuat mata kananku terpejam.
Lari adalah satu-satunya jalan untukku agar tidak terkena pukul lagi. Namun setelah aku berlari keluar kamar, aku mendapati tubuh ibu yang tersungkur di lantai. Beliau sudah tidak bernyawa.
Aku ingat betapa besarnya keinginanku untuk mati pada saat itu.
“Nuka?”
Lamunanku terpecah. Mataku kemudian terfokus kepada seorang perempuan yang berdiri tak jauh di belakangku. Kerlingnya memancarkan kesedihan saat kami bertatapan.
~
Aku ingat saat mama mengantarku ke rumah sakit. Dokter menyapaku dengan ramah lalu menyuruhku berbaring di sebuah kasur untuk diperiksa. Beliau tampak memeriksa keadaanku dengan stetoskop, menyuruhku menjulurkan lidah, lalu menyorotkan senter kecil ke kedua mataku. Dahinya mengernyit sesaat, lalu beliau menanyakanku apakah aku sering merasa sakit kepala.
Sakit kepala adalah hal biasa untukku, namun rasanya luar biasa. Ketika datang, rasanya kepalaku ingin pecah sehingga aku sering membenturkan kepalaku ke dinding perlahan-lahan. Tapi aku tidak cerita itu ke dokter dan ke ibu. Aku tidak ingin membuat mama khawatir dengan kesehatanku.
Seminggu kemudian, aku kembali mendatangi dokter itu, namun kali ini aku bersama papa. Rasa sakit kepalaku semakin parah dan lebih sering. Beberapa kali aku pingsan di rumah, atau muntah sehingga aku tidak bertenaga karena semua makanan kukeluarkan kembali.
Dokter kembali memeriksaku, namun beliau memeriksa mataku sedikit lebih lama. Wajah dokter terlihat agak serius setelah aku selesai diperiksa. Ia berbincang sesuatu dengan papa, kelihatannya sesuatu yang sangat penting. Tak lama, papa memanggilku, menyuruhku untuk duduk di sampingnya, dan memintaku untuk tetap tenang dengan apa yang akan beliau katakan.
Aku hanya terdiam sambil mencerna informasi yang baru saja kuperoleh. Papa dan dokter memandangku dengan sedih, tapi aku membalas mereka dengan senyum.
‘Oh, pantas saja kepalaku sangat sakit,’ pikirku dalam hati setelah mendengar berita itu. ‘Ada tumor di kepalaku.’
Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, tapi saat aku membuka mata, sudah ada selang infus menempel di lengan kiriku. Lalu ada mama di sampingku; matanya merah dan bengkak. Mama kenapa? Mama kenapa menangis?
 “Lisa,” panggilnya, mengembalikan pikiranku yang semula tanpa sengaja masuk kembali ke ingatan-ingatan masa lalu. “Ada apa?” tanya Nuka.
Aku tersenyum melihat tatapannya yang penuh pertanyaan. “Jangan melamun,” jawabku lalu duduk di kursi kecil di bawah sebuah pohon yang rindang.
Nuka menghampiriku dan duduk tak jauh dariku. “Kamu juga jangan melamun,” balasnya, matanya menatap ke awan kelabu yang sedari tadi tidak berhenti bergerak. “Lagipula, apa kamu boleh jalan-jalan seperti ini?” Nuka bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Tidak apa-apa kok,” aku tertawa kecil sambil bersandar pada kursi, lalu ikut memperhatikan awan-awan di langit.
“Tapi besok–”
“Operasi pengangkatan tumor,” potongku, “Aku ingat itu, Nuka, aku tidak akan lupa kalau besok adalah hari besar.”
Angin bertiup perlahan, membuat ayunan kuning di ujung bergerak-gerak dan berderit kecil. Hujan perlahan reda, meninggalkan hanya gerimis halus di angkasa. Aku menghela nafas sambil memperhatikan cahaya matahari yang berusaha menerobos masuk melalui celah-celah awan tebal itu.
“Nuka?”
“Ya?”
“Dokter berkata kalau akan ada kemungkinan hilang ingatan setelah operasi selesai, itu jika operasi itu berhasil,” ujarku. “Jadi aku ingin berterima kasih karena kamu sudah menjadi teman senasibku.”
Dia tertawa tepat setelah mendengar kata ‘senasib’ yang kuucapkan. “Aku juga mau berterima kasih karena sudah membantuku untuk bisa mengikuti operasi besok. Kalau kita saling lupa, kita bisa kenalan lagi, kan?”
Aku mengangguk. “Ya, tentu. Tapi aku masih tidak percaya kamu dapat tumor karena dipukul botol,” ujarku.
“Apapun bisa terjadi kalau Allah mengizinkan,” jawabnya. “Selama kita terus sabar dan tetap berdoa kepada Allah, aku yakin kita bisa melewati ujian-ujian-Nya.”
Aku mengangguk setuju. Sebuah senyum terkembang di wajahku, lalu aku menatap Nuka. “Allah mencintai hamba-Nya yang kuat, apa menurutmu kita sudah termasuk golongan itu?” tanyaku.
“Tentu saja, kita sudah melewati banyak hal. Mungkin tidak sekuat yang kita bayangkan, namun aku tahu kalau kita bukan pribadi yang lemah.”
Kami tersenyum dan tertawa, lalu kembali melihat ke langit. Banyak hal yang sudah terjadi kepadaku dan Nuka di masa lalu. Manis atau pahit, kami sama-sama menelannya. Karena kami tahu selalu ada harapan di setiap rintangan.
“Lisa?”
“Ya?”
“Semoga kita masih bisa mengingat satu sama lain ya.”
“Amin.”

*****

Cerpen ini adalah pemenang 2 dalam Kompilasi (Kompetisi Pelajar Islam Smansasi) 2015 'Laa Tahinu, Qowilillahi ta'ala' yang dilaksanakan bulan Februari 2015.

Penulis, Syavana Levaretna Arsy, kelas XI MIPA 8 2014/2015 dapat dihubungi melalui account twitternya @syavanarsy

0 comments:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 IRMAN SMANSASI.