”Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”
QS.
Al-Kahfi : 28
~
Ayunan
kuning yang berderit.
Perosotan
yang basah.
Jungkat-jungkit
yang berbunyi karena terkena air hujan.
Aku
berdiri di sana, memperhatikan bagaimana air hujan jatuh membasahi rerumputan
dan dedaunan yang jatuh, sebelum meresap masuk ke tanah. Aku memperhatikan
betapa cepatnya awan kelabu bergerak tertiup angin. Aku memperhatikan bagaimana
burung terbang dengan sayap-sayap mereka, semakin jauh ke langit. Aku
memperhatikan bagaimana bulu burung itu jatuh sesaat setelah mereka terbang –
meliuk-liuk, berputar, tertiup angin, lalu mendarat di tanah.
Aku
memperhatikan hampir segalanya. Setiap detail dari sebuah kejadian – aku
mengingat semuanya.
Aku
ingat bagaimana ayah memukul ibu saat ia sedang mabuk. Aku ingat bagaimana
besarnya emosi ayah. Kemarahan, kebencian, putus asa. Beliau menarik ibu ke
ruang tengah, sedang aku di dorongnya masuk ke kamarku, membiarkanku mendengar
semua jeritan ampun ibu, suara barang pecah, suara amuk ayah, teriakan ibu yang
melengking hingga aku berdoa kepada Allah untuk memohon agar Ia menghukum
ayahku.
Sebutlah
aku anak durhaka, tetapi kalau kau berada di posisiku, terkunci dan tidak bisa
melakukan apa-apa, kau pasti akan melakukan hal yang sama.
Senyuman
pahit timbul di wajahku semakin aku mengingat semua kejadian itu.
“Ya Allah hukum ayahku!”
Ibu
tidak pantas mendapat semua hal itu. Ibu tidak pantas mendapat semua hal yang
ayah lakukan.
Tiba-tiba
pintu kamarku terbuka. Ayah masuk membawa sebuah botol dengan terhuyung-huyung.
Beliau melihatku, lalu wajahnya yang semula tampak lelah kemudian kembali
memperlihatkan amarah dan kebenciannya. Ia kemudian memukul kepalaku dengan
botolnya hingga botol itu pecah. Darah segera mengalir dari pelipisku, membuat
mata kananku terpejam.
Lari
adalah satu-satunya jalan untukku agar tidak terkena pukul lagi. Namun setelah
aku berlari keluar kamar, aku mendapati tubuh ibu yang tersungkur di lantai.
Beliau sudah tidak bernyawa.
Aku
ingat betapa besarnya keinginanku untuk mati pada saat itu.
“Nuka?”
Lamunanku
terpecah. Mataku kemudian terfokus kepada seorang perempuan yang berdiri tak
jauh di belakangku. Kerlingnya memancarkan kesedihan saat kami bertatapan.
~
Aku
ingat saat mama mengantarku ke rumah sakit. Dokter menyapaku dengan ramah lalu
menyuruhku berbaring di sebuah kasur untuk diperiksa. Beliau tampak memeriksa
keadaanku dengan stetoskop, menyuruhku menjulurkan lidah, lalu menyorotkan
senter kecil ke kedua mataku. Dahinya mengernyit sesaat, lalu beliau
menanyakanku apakah aku sering merasa sakit kepala.
Sakit
kepala adalah hal biasa untukku, namun rasanya luar biasa. Ketika datang,
rasanya kepalaku ingin pecah sehingga aku sering membenturkan kepalaku ke
dinding perlahan-lahan. Tapi aku tidak cerita itu ke dokter dan ke ibu. Aku
tidak ingin membuat mama khawatir dengan kesehatanku.
Seminggu
kemudian, aku kembali mendatangi dokter itu, namun kali ini aku bersama papa.
Rasa sakit kepalaku semakin parah dan lebih sering. Beberapa kali aku pingsan
di rumah, atau muntah sehingga aku tidak bertenaga karena semua makanan
kukeluarkan kembali.
Dokter
kembali memeriksaku, namun beliau memeriksa mataku sedikit lebih lama. Wajah
dokter terlihat agak serius setelah aku selesai diperiksa. Ia berbincang
sesuatu dengan papa, kelihatannya sesuatu yang sangat penting. Tak lama, papa
memanggilku, menyuruhku untuk duduk di sampingnya, dan memintaku untuk tetap
tenang dengan apa yang akan beliau katakan.
Aku
hanya terdiam sambil mencerna informasi yang baru saja kuperoleh. Papa dan
dokter memandangku dengan sedih, tapi aku membalas mereka dengan senyum.
‘Oh, pantas saja kepalaku sangat sakit,’ pikirku dalam hati setelah mendengar
berita itu. ‘Ada tumor di kepalaku.’
Setelah
itu aku tidak ingat apa-apa lagi, tapi saat aku membuka mata, sudah ada selang
infus menempel di lengan kiriku. Lalu ada mama di sampingku; matanya merah dan
bengkak. Mama kenapa? Mama kenapa menangis?
“Lisa,” panggilnya, mengembalikan pikiranku
yang semula tanpa sengaja masuk kembali ke ingatan-ingatan masa lalu. “Ada
apa?” tanya Nuka.
Aku
tersenyum melihat tatapannya yang penuh pertanyaan. “Jangan melamun,” jawabku
lalu duduk di kursi kecil di bawah sebuah pohon yang rindang.
Nuka
menghampiriku dan duduk tak jauh dariku. “Kamu juga jangan melamun,” balasnya,
matanya menatap ke awan kelabu yang sedari tadi tidak berhenti bergerak.
“Lagipula, apa kamu boleh jalan-jalan seperti ini?” Nuka bertanya tanpa
mengalihkan pandangannya dari langit.
“Tidak
apa-apa kok,” aku tertawa kecil sambil bersandar pada kursi, lalu ikut
memperhatikan awan-awan di langit.
“Tapi
besok–”
“Operasi
pengangkatan tumor,” potongku, “Aku ingat itu, Nuka, aku tidak akan lupa kalau
besok adalah hari besar.”
Angin
bertiup perlahan, membuat ayunan kuning di ujung bergerak-gerak dan berderit
kecil. Hujan perlahan reda, meninggalkan hanya gerimis halus di angkasa. Aku
menghela nafas sambil memperhatikan cahaya matahari yang berusaha menerobos
masuk melalui celah-celah awan tebal itu.
“Nuka?”
“Ya?”
“Dokter
berkata kalau akan ada kemungkinan hilang ingatan setelah operasi selesai, itu
jika operasi itu berhasil,” ujarku. “Jadi aku ingin berterima kasih karena kamu
sudah menjadi teman senasibku.”
Dia
tertawa tepat setelah mendengar kata ‘senasib’ yang kuucapkan. “Aku juga mau
berterima kasih karena sudah membantuku untuk bisa mengikuti operasi besok.
Kalau kita saling lupa, kita bisa kenalan lagi, kan?”
Aku
mengangguk. “Ya, tentu. Tapi aku masih tidak percaya kamu dapat tumor karena
dipukul botol,” ujarku.
“Apapun
bisa terjadi kalau Allah mengizinkan,” jawabnya. “Selama kita terus sabar dan
tetap berdoa kepada Allah, aku yakin kita bisa melewati ujian-ujian-Nya.”
Aku
mengangguk setuju. Sebuah senyum terkembang di wajahku, lalu aku menatap Nuka.
“Allah mencintai hamba-Nya yang kuat, apa menurutmu kita sudah termasuk
golongan itu?” tanyaku.
“Tentu
saja, kita sudah melewati banyak hal. Mungkin tidak sekuat yang kita bayangkan,
namun aku tahu kalau kita bukan pribadi yang lemah.”
Kami
tersenyum dan tertawa, lalu kembali melihat ke langit. Banyak hal yang sudah
terjadi kepadaku dan Nuka di masa lalu. Manis atau pahit, kami sama-sama
menelannya. Karena kami tahu selalu ada harapan di setiap rintangan.
“Lisa?”
“Ya?”
“Semoga
kita masih bisa mengingat satu sama lain ya.”
“Amin.”
*****
Cerpen ini adalah pemenang 2 dalam Kompilasi (Kompetisi Pelajar Islam Smansasi) 2015 'Laa Tahinu, Qowilillahi ta'ala' yang dilaksanakan bulan Februari 2015.
Penulis, Syavana Levaretna Arsy, kelas XI MIPA 8 2014/2015 dapat dihubungi melalui account twitternya @syavanarsy
0 comments:
Posting Komentar