Aku pernah
melihat sosok malaikat, tapi rupanya jauh dari bayangan, jauh dari kisah-kisah
epik dalam kelas yang sebenarnya hanya santri duduk melingkar di bawah saung
jerami, berceloteh hingga gelap hinggap, biru turun tahta dari angkasa, merah
dan hitam berkuasa. Purnama siap-siap mengintip.
Aku pernah
melihat malaikat. Dia tidak bersayap, tidak bergelimang cahaya seperti mentari,
tidak gemilau seperti bintang-bintang hitam putih televisi. Dia hanya berjilbab
keruh yang ujung-ujungnya menguning, kulitnya gelap, dan aku yakin dia bahkan
tidak mengerti cara menyalakan televisi. Tapi jika tersenyum maka sejagat kalah
cantiknya. Ketika bibirnya terangkat melengkung ke atas, maka di saat itulah
ombak menggulung kemudian bertolak, di saat itulah malam jinjit dan pergi
mengendap, mengejar mas senja di ujung Selat Karimata. Di saat itulah kicau
burung berubah mendayu, sepintas seperti lagu merayu. Di saat itulah jilbab
hijau-kuning dan dua bola mata hitam kaca dan pundaknya yang tegap saking
mahirnya menggenggam obor dan mengokang tuas harpun mendadak disihir menjadi
malaikat, padahal waktu bukan jam dua belas, padahal dia bukan Cinderella. Aku gemetar, kemudian
merapal istighfar, karena bagaimana bisa
manusia secantik ini menambat tali dan menikam punggung hiu dalam kesehariannya?
Ketika kami
bertemu, aku adalah manusia galau yang paling bahagia di dunia dan dia adalah
orang tersenyum yang paling sedih di jagat raya. Aku menyeret kakiku di tengah
dalamnya pasir putih, sandalku ditelan lahap-lahap. Saat itu dia sedang
termenung duduk di pinggir perahu, kakinya bertengger dalam lubang palka.
“Jangan
diangkat! Seret saja!” Suaranya agak berteriak, miris melihat keadaanku.
Ketika aku
sampai di sisinya, ia tahu maksud kedatanganku disini bukan hanya sekedar
menonton wajah-wajah nelayan atau kafilah bocah-bocah ingusan bermain di
buritan. Tak salah juga. Aku berpakaian jaket lusuh dengan buku catatan di saku
dan kamera digital rongsokan
dikalungi, diikat tali sepatu lama yang menciut seiring waktu. Gambaran apa
yang kau dapat?
“Pulang, a’,
tidak ada yang bisa kau liput disini. Ke kiri, anak-anak main di buritan. Ke
kanan, a’a lihat lebih banyak biru. Biru, biru laut. Gulung ombaknya
tarik-menarik. Deburnya timbul tenggelam.”
Aku mendengar si
gadis bercerita, padahal aku bahkan tidak tahu menahu ia bicara dengan siapa.
Matanya pada laut, bukan padaku.
Ceritanya tidak
kalah seru. Dari hilir mudik orang-orang pangkalan, mulai dari ngkoh-ngkoh Tionghoa sampai ke
bapak-bapak Melayu yang kerjanya memaki-maki pemerintah. Kalau sedikit lebih
siang maka terkadang tampil juga penjaja kue baskom, pedagang bumbu dapur,
pedagang ikan yang baunya merebak ikan pari. Hanya dibutuhkan setengah jam
mengayuh sepeda dari pangkalan ini ke sebuah pasar, dan wajar wajah-wajah
senyum miris para pedagang kaki dua untuk tampak sehari-hari. Kalau mereka
tersenyum, terlihat dua sampai lima lubang ompong.
Tapi aku kesini
bukan untuk membuat riset soal komunitas pangkalan. Bukannya dibayar dengan
sebungkus nasi padang dan kopi dua sendok gula, tapi dibayar dengan segenap
tinju. Aku sudah terlalu membenci hidupku untuk dibogem sampai biru.
Aku ingin
menulis tentang figur yang aku percaya paling pantas untuk diulas di kampung
kecil kita ini. Aku ingin dunia tahu akan Zahinah
binti Zahir, wanita paling tangguh yang pernah aku empat mata bertemu.
“A’a salah kalau
mau mencari buat diwawancara,” jawabnya, masih asik memandang biru laut, “saya
terlalu sederhana untuk tulisan. Sekarang lebih baik a’a pulang, kemudian
datang lagi bukan ke saya. Coba ke Pak RT! Dia orang pintar, saya bahkan huruf
yang berbentuk bunder dan yang
bentuknya lurus tidak bisa membedakan cara bacanya.”
Besoknya, aku
datang lagi. Kepadanya. Bukan Pak RT. Karena Pak RT bukan Zahinah binti Zahir, yang umurnya lebih muda dariku, yang berlayar
seperti gadis lainnya menyiapkan acar, yang melintasi lor-lor garang bersama
perahu sederhananya seperti gadis seumurannya memasak nasi. Zahinah tinggal
sebatang kara, ayahnya menutup mata ditelan bulat-bulat oleh biru laut. Mungkin
kalau aku Zahinah, aku akan membenci hidupku lebih aku membenci hidupku
sekarang.
“A’a ada apa
kesini lagi? Rumahnya Pak RT selatan-utara dengan di sini, a’.”
“Bawa aku
berlayar,”
Zahinah terlihat
setengah terperanjat, setengah berkesimpulan aku gila. Sebenarnya benar juga.
Aku agak mabuk laut.
“Ya… ya,”
Aku ingin
menjadi saksi akan ketangguhan Zahinah binti Zahir. Aku ingin melihatnya
menantang pusaran dahsyat, membanting Laut Cina Selatan, merasakan perahu
bergoyang halus sembari Zahinah berseteru dengan materi yang menyita ayahnya
darinya, merasakan perahu bergemetar, mengecap takut dan suspensi dalam satu
rasa. Aku ingin mencintai hidupku yang bosan dan suntuk. Aku ingin belajar dari
Zahinah.
Esoknya, pagi
buta, kami bertolak ke arah barat laut. Belum-belum, perahu terlontar dihisap
tiba-tiba oleh pusaran, hasil Laut Jawa reuni akbar bersama Laut Cina Selatan.
Papan-papan bergemelutuk. Otak berkata untuk menyelamatkan diri. Hati berkata
untuk menyebut-nyebut Allah SWT. Refleksku menggenggam catatan saku dan bolpoin
seribu rupiah. Aku melakukan ketiga-tiganya sekaligus.
Perahu
melepaskan diri dengan meluncur perlahan melawan arus pelan-pelan tapi pasti.
Ketika kami lolos dengan nyawa dikandung raga, aku langsung mengosongkan isi
lambung. Zahinah menahan tawa melihat wajahku yang pucat. Ketika aku
memuntahkan seluruh isi dan posisiku membuat catatan saku jatuh ke biru, biru
laut, Zahinah akhirnya tertawa lepas.
“Aku kesini
ingin berburu hiu gergaji.”
“Kau gila,”
adalah jawabku.
“Usah kau lara
sendiri, a’a. Mereka sedang berenang menuju Kuala Trenggano. Kita butuh uang.
Uang bisa untuk beli kue mangkok…”
Yang kami
lakukan adalah menghadang sebuah barisan ikan hiu gergaji. Bergegas aku kokang
tuas harpun, bersiap membidik hiu. Makin gentar aku melihat ukurannya yang
mengalahkan perahu sederhana kami.
“Tembak, a’!”
Sebelum aku bisa
menginjak pegas tuas, aku terpelanting seiring bayang kelabu di dalam air
menabrak kencang perahu. Aku hilang keseimbangan, nyaris tertujam ke laut
sebelum Zahinah menarik kerah bajuku, melemparkan aku kembali ke perahu. Aku
tersungkur tersuruk-suruk sambil menyaksikan Zahinah mengerahkan tempuling,
menikam sukses ikan hiu. Melihatnya, aku bangkit, meraih tali tempuling.
Zahinah sempat terlihat kaget, dan untuk kali ini, ia menoleh padaku. Aku empat
mata dengan gadis sebatangkara paling kuat di dunia.
“Zahinah binti
Zahir, bagaimana bisa seseorang sepertimu terlihat begitu menikmati hidup?!”
Bagaimana orang yang telah dirampas segala yang ia miliki bisa begitu kuat?
Begitu tegar?
Dan kali ini
Zahinah tersenyum, dan dari dalam diriku meletup sebuah perasaan. Perasaan yang
tidak mampu aku jelaskan.
Dijawab oleh
Zahinah binti Zahir, “Laa Tahinu,
Qawilillahi ta’ala! (Jangan lemah, kuat karena Allah!)”
*****
Cerpen ini adalah pemenang 1 dalam KOMPILASI (Kompetisi Pelajar Islam Smansasi) 2015 'Laa Tahinu, Qowilillahi ta'ala' yang dilaksanakan bulan Februari 2015.
Penulis, Ika Madina, kelas XI MIPA 9 2014/2015 dapat dihubungi melalui account twitternya @anidamaki
0 comments:
Posting Komentar