Jumat, 04 September 2015

Filled Under:

Di Ujung Selat Karimata

Aku pernah melihat sosok malaikat, tapi rupanya jauh dari bayangan, jauh dari kisah-kisah epik dalam kelas yang sebenarnya hanya santri duduk melingkar di bawah saung jerami, berceloteh hingga gelap hinggap, biru turun tahta dari angkasa, merah dan hitam berkuasa. Purnama siap-siap mengintip.

Aku pernah melihat malaikat. Dia tidak bersayap, tidak bergelimang cahaya seperti mentari, tidak gemilau seperti bintang-bintang hitam putih televisi. Dia hanya berjilbab keruh yang ujung-ujungnya menguning, kulitnya gelap, dan aku yakin dia bahkan tidak mengerti cara menyalakan televisi. Tapi jika tersenyum maka sejagat kalah cantiknya. Ketika bibirnya terangkat melengkung ke atas, maka di saat itulah ombak menggulung kemudian bertolak, di saat itulah malam jinjit dan pergi mengendap, mengejar mas senja di ujung Selat Karimata. Di saat itulah kicau burung berubah mendayu, sepintas seperti lagu merayu. Di saat itulah jilbab hijau-kuning dan dua bola mata hitam kaca dan pundaknya yang tegap saking mahirnya menggenggam obor dan mengokang tuas harpun mendadak disihir menjadi malaikat, padahal waktu bukan jam dua belas, padahal dia bukan Cinderella. Aku gemetar, kemudian merapal istighfar, karena bagaimana bisa manusia secantik ini menambat tali dan menikam punggung hiu dalam kesehariannya?

Ketika kami bertemu, aku adalah manusia galau yang paling bahagia di dunia dan dia adalah orang tersenyum yang paling sedih di jagat raya. Aku menyeret kakiku di tengah dalamnya pasir putih, sandalku ditelan lahap-lahap. Saat itu dia sedang termenung duduk di pinggir perahu, kakinya bertengger dalam lubang palka.

“Jangan diangkat! Seret saja!” Suaranya agak berteriak, miris melihat keadaanku.

Ketika aku sampai di sisinya, ia tahu maksud kedatanganku disini bukan hanya sekedar menonton wajah-wajah nelayan atau kafilah bocah-bocah ingusan bermain di buritan. Tak salah juga. Aku berpakaian jaket lusuh dengan buku catatan di saku dan kamera digital rongsokan dikalungi, diikat tali sepatu lama yang menciut seiring waktu. Gambaran apa yang kau dapat?

“Pulang, a’, tidak ada yang bisa kau liput disini. Ke kiri, anak-anak main di buritan. Ke kanan, a’a lihat lebih banyak biru. Biru, biru laut. Gulung ombaknya tarik-menarik. Deburnya timbul tenggelam.”

Aku mendengar si gadis bercerita, padahal aku bahkan tidak tahu menahu ia bicara dengan siapa. Matanya pada laut, bukan padaku.

Ceritanya tidak kalah seru. Dari hilir mudik orang-orang pangkalan, mulai dari ngkoh-ngkoh Tionghoa sampai ke bapak-bapak Melayu yang kerjanya memaki-maki pemerintah. Kalau sedikit lebih siang maka terkadang tampil juga penjaja kue baskom, pedagang bumbu dapur, pedagang ikan yang baunya merebak ikan pari. Hanya dibutuhkan setengah jam mengayuh sepeda dari pangkalan ini ke sebuah pasar, dan wajar wajah-wajah senyum miris para pedagang kaki dua untuk tampak sehari-hari. Kalau mereka tersenyum, terlihat dua sampai lima lubang ompong.

Tapi aku kesini bukan untuk membuat riset soal komunitas pangkalan. Bukannya dibayar dengan sebungkus nasi padang dan kopi dua sendok gula, tapi dibayar dengan segenap tinju. Aku sudah terlalu membenci hidupku untuk dibogem sampai biru.

Aku ingin menulis tentang figur yang aku percaya paling pantas untuk diulas di kampung kecil kita ini. Aku ingin dunia tahu akan Zahinah binti Zahir, wanita paling tangguh yang pernah aku empat mata bertemu.

“A’a salah kalau mau mencari buat diwawancara,” jawabnya, masih asik memandang biru laut, “saya terlalu sederhana untuk tulisan. Sekarang lebih baik a’a pulang, kemudian datang lagi bukan ke saya. Coba ke Pak RT! Dia orang pintar, saya bahkan huruf yang berbentuk bunder dan yang bentuknya lurus tidak bisa membedakan cara bacanya.”

Besoknya, aku datang lagi. Kepadanya. Bukan Pak RT. Karena Pak RT bukan Zahinah binti Zahir, yang umurnya lebih muda dariku, yang berlayar seperti gadis lainnya menyiapkan acar, yang melintasi lor-lor garang bersama perahu sederhananya seperti gadis seumurannya memasak nasi. Zahinah tinggal sebatang kara, ayahnya menutup mata ditelan bulat-bulat oleh biru laut. Mungkin kalau aku Zahinah, aku akan membenci hidupku lebih aku membenci hidupku sekarang.

“A’a ada apa kesini lagi? Rumahnya Pak RT selatan-utara dengan di sini, a’.”
“Bawa aku berlayar,”

Zahinah terlihat setengah terperanjat, setengah berkesimpulan aku gila. Sebenarnya benar juga. Aku agak mabuk laut.

“Ya… ya,”

Aku ingin menjadi saksi akan ketangguhan Zahinah binti Zahir. Aku ingin melihatnya menantang pusaran dahsyat, membanting Laut Cina Selatan, merasakan perahu bergoyang halus sembari Zahinah berseteru dengan materi yang menyita ayahnya darinya, merasakan perahu bergemetar, mengecap takut dan suspensi dalam satu rasa. Aku ingin mencintai hidupku yang bosan dan suntuk. Aku ingin belajar dari Zahinah.

Esoknya, pagi buta, kami bertolak ke arah barat laut. Belum-belum, perahu terlontar dihisap tiba-tiba oleh pusaran, hasil Laut Jawa reuni akbar bersama Laut Cina Selatan. Papan-papan bergemelutuk. Otak berkata untuk menyelamatkan diri. Hati berkata untuk menyebut-nyebut Allah SWT. Refleksku menggenggam catatan saku dan bolpoin seribu rupiah. Aku melakukan ketiga-tiganya sekaligus.
Perahu melepaskan diri dengan meluncur perlahan melawan arus pelan-pelan tapi pasti. Ketika kami lolos dengan nyawa dikandung raga, aku langsung mengosongkan isi lambung. Zahinah menahan tawa melihat wajahku yang pucat. Ketika aku memuntahkan seluruh isi dan posisiku membuat catatan saku jatuh ke biru, biru laut, Zahinah akhirnya tertawa lepas.

“Aku kesini ingin berburu hiu gergaji.”
“Kau gila,” adalah jawabku.
“Usah kau lara sendiri, a’a. Mereka sedang berenang menuju Kuala Trenggano. Kita butuh uang. Uang bisa untuk beli kue mangkok…”

Yang kami lakukan adalah menghadang sebuah barisan ikan hiu gergaji. Bergegas aku kokang tuas harpun, bersiap membidik hiu. Makin gentar aku melihat ukurannya yang mengalahkan perahu sederhana kami.

“Tembak, a’!”

Sebelum aku bisa menginjak pegas tuas, aku terpelanting seiring bayang kelabu di dalam air menabrak kencang perahu. Aku hilang keseimbangan, nyaris tertujam ke laut sebelum Zahinah menarik kerah bajuku, melemparkan aku kembali ke perahu. Aku tersungkur tersuruk-suruk sambil menyaksikan Zahinah mengerahkan tempuling, menikam sukses ikan hiu. Melihatnya, aku bangkit, meraih tali tempuling. Zahinah sempat terlihat kaget, dan untuk kali ini, ia menoleh padaku. Aku empat mata dengan gadis sebatangkara paling kuat di dunia.

“Zahinah binti Zahir, bagaimana bisa seseorang sepertimu terlihat begitu menikmati hidup?!” Bagaimana orang yang telah dirampas segala yang ia miliki bisa begitu kuat? Begitu tegar?
Dan kali ini Zahinah tersenyum, dan dari dalam diriku meletup sebuah perasaan. Perasaan yang tidak mampu aku jelaskan.


Dijawab oleh Zahinah binti Zahir, “Laa Tahinu, Qawilillahi ta’ala! (Jangan lemah, kuat karena Allah!)”

*****
Cerpen ini adalah pemenang 1 dalam KOMPILASI (Kompetisi Pelajar Islam Smansasi) 2015 'Laa Tahinu, Qowilillahi ta'ala' yang dilaksanakan bulan Februari 2015.

Penulis, Ika Madina, kelas XI MIPA 9 2014/2015 dapat dihubungi melalui account twitternya @anidamaki

0 comments:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 IRMAN SMANSASI.