Belum tuntas
masalahku dengan Lisa, kenapa sekarang Mama yang harus pergi?
Sungguh, Anna tidak bisa membayangkan bagaimana
kehidupannya setelah ia meninggalkan makam. Sejak dulu Anna berprinsip, ia
hidup untuk membahagiakan Mama seorang. Mama yang telah melahirkannya ke dunia
dan merawatnya seorang diri—hingga
kemarin malam. Setelah Mama menghembuskan nafas terakhirnya, untuk siapa
lagi Anna berjuang? Untuk siapa lagi Anna hidup?
***
Tiga hari setelah
Mama pergi.
Hari ini hari pertama Anna masuk sekolah setelah harinya
terpuruk itu. Setibanya di kelas, ia mendapati teman-temannya sibuk berkutat
dengan buku Agama masing-masing. Ada ulangankah? Anna
tersenyum kecut. Ia sama sekali belum mempersiapkan apa-apa untuk ulangan yang
tak diketahuinya ini.
Ketika Anna sampai di bangkunya, ia melihat Lisa sedang
duduk di bangku sebelahnya. Gadis itu sibuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dari
buku cetak yang tampaknya akan menjadi materi ulangan nanti. Tiba-tiba Lisa
menoleh dan sejenak tatapan mereka bertemu. Anna membeku di tempat, sementara
Lisa melengos dan memalingkan wajah ke buku di hadapannya.
Sudah setengah jam ulangan dilaksanakan. Namun Anna
hanya menatap kosong kertas soal di hadapannya. Ia melirik Lisa yang sibuk
mengerjakan soal. Kertas jawabannya sudah hampir penuh. Sebuah ide tiba-tiba melintas
begitu saja di otaknya yang sudah nyaris lumpuh. Tanpa sadar Anna mencondongkan
tubuhnya mendekat ke arah Lisa, lebih tepatnya mendekat ke kertas jawabannya.
Tulisan rapi Lisa mulai terbaca oleh matanya.
Tepat pada saat Anna menyadari perbuatannya, Lisa juga
sedang menoleh ke arahnya. Kedua matanya melebar, sementara Anna tergagap. “A-aku…”
“Kamu mau mencontek, ya?” seru Lisa tidak senang. Anna
bisa merasakan berpasang-pasang mata yang terarah padanya, efek volume suara Lisa
yang menggema di kelas yang hening itu. Lama Anna membeku di tempat, hingga Pak
Rasyid sudah berdiri di samping meja mereka dan mengambil kertas milik Anna.
“Ikut Bapak sekarang,” perintah Pak Rasyid dengan suara
rendah yang mampu menciutkan nyali siapa saja yang mendengar, terutama Anna
sendiri. Anna berdiri dan melangkah gamang ke luar kelas mengikuti Pak Rasyid.
Hatinya bergemuruh. Ia tidak menyangka Lisa ternyata semarah ini padanya.
Anna sangat sadar, perbuatannya tadi memang salah. Sejak
dulu ia menanamkan prinsip itu di bawah sadarnya. Prinsipnya itulah yang
menjadi akar permasalahannya dengan Lisa. Berbuat
curang itu dosa. Anna masih ingat persis kata-kata Mama saat pertama kali
mengajarinya untuk jujur.
Mama.
Seluruh tubuhnya gemetar, ketika ia tersadarkan kembali
oleh kenyataan pahit itu. Rahang Anna mengatup kuat-kuat, menahan isakannya
yang sudah berada di tenggorokan melompat keluar, namun usahanya gagal. Air
matanya mengalir lagi, kali ini Anna tidak berusaha mencegahnya..
Aku tidak kuat,
Ma. Aku tidak kuat.
***
Anna berdiri menatap gapura besar di hadapannya. Gapura
gerbang pemakaman umum, tempat ia bisa mengunjungi Mama lagi sekarang.
Ia sadar, datang ke tempat ini malah akan membuat luka
lamanya terbuka kembali. Malah semakin menyulitkannya untuk mengikhlaskan
kepergian Mama. Dan perbuatan seperti itu jelas-jelas adalah dosa, karena
bagaimanpun Mama juga salah satu dari milyaran ciptaan Allah swt., yang suatu
saat harus kembali lagi pada-Nya. Tapi masalahnya, Anna benar-benar tidak lagi
tahu siapa dirinya sekarang tanpa Mama. Tanpa Mama, Anna merasa lemah, merasa
kosong, merasa bagaikan anggrek yang kehilangan pohon inangnya, yang tanpanya
anggrek tidak bisa lagi bertahan hidup dan kemudian mati.
Dan ketika ia berdiri lagi di hadapan makam untuk kesekian
kalinya, tikaman tepat di hatinya membuat Anna benar-benar yakin, kelemahannya
saat ini cepat atau lambat akan membuatnya tidak lagi bisa bertahan lebih lama
lagi. Dan dengan begitu, ia bisa menyusul Mama. Lagi pula—Anna tersenyum perih—ia
tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Jadi untuk siapa lagi dia hidup sekarang?
Anna berbalik pergi dari makam, menyusuri areal
pemakaman dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Lama Anna terus
melangkahkan kakinya tanpa arah pasti, hingga ia merasakan kakinya mulai pegal
karena terus berjalan. Ia berhenti berjalan dan terpaku ketika mendapati
dirinya sedang bersandar pada pagar pengaman jembatan. Anna berbalik dan
menunduk, menatap lurus permukaan sungai besar yang mengalir cukup deras di
bawahnya. Di musim hujan begini, air sungai itu pasti dingin sekali. Kalau saja
Anna terjatuh ke dalamnya, ia pasti akan hanyut dan mati beku, dan ia tidak
akan lagi merasakan bagaimana menjadi orang lemah di tengah kehidupan yang keras
tanpa Mama. Ya, ia hanya perlu jatuh, dan semua akan selesai.
Aku pulang, Ma.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik Anna dengan kasar
menjauhi pagar jembatan. Belum sepenuhnya Anna tersadar, kemudian ia merasakan
tubuh besar yang mendekapnya erat sambil mengucapkan takbir dan istighfar
berkali-kali. Tante Dina.
Tante Dina melepas pelukannya dan Anna bisa melihat
berbagai macam gejolak emosi yang terpancar dari kedua mata yang menatapnya.
Kemudian ia mendengar Tante Dina berkata, “Seberat apapun masalah yang kamu
hadapi, bunuh diri bukan jalan terbaik untuk menuntaskan semuanya, Anna. Istighfar!
Bunuh diri itu dosa besar yang tidak akan diampuni Allah, Anna!”
Anna masih terdiam. Pikirannya berkecamuk, bahkan ia
sendiri tidak bisa memilah apa-apa saja yang bergemuruh di kepalanya saat ini.
Tapi ada satu hal yang melekat erat di otak Anna sampai saat ini, satu hal yang
membuat gadis itu nyaris membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Detik itu Anna kembali menumpahkan air matanya, kali ini
bersama seluruh beban yang selama ini menghimpit dadanya. “Anna tidak bisa lagi
hidup sendiri tanpa Mama. Anna tidak tahu untuk apa dan siapa Anna hidup
setelah Mama pergi. Lebih dari semua itu, Anna hancur, Tante.” Tante Dina membiarkan
keponakannya meraung-raung di dekapannya selama beberapa saat.
“Kita semua tidak pernah sendiri di dunia ini, Anna. Innallaaha ma’ana. Allah selalu bersama
kita. Kita memang lemah. Lemah di hadapan-Nya. Tapi Yang Mahabesar selalu
menguatkan hamba-hambanya yang bertakwa.”
Anna tercekat. Suara Tante Dina begitu lirih bagaikan
hembusan angin. Namun Anna bisa mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya ia
merasakan segenap hatinya damai. Damai karena Tante Dina. Damai karena ia tahu,
meskipun tanpa Mama, ia akan selalu kuat selama bersama Allah ta’ala.
Laa
tahinu qawilillaahi ta’ala. Laa tahzanu innallaaha ma’ana.*****
Cerpen ini adalah pemenang 3 dalam Kompilasi (Kompetisi Pelajar Islam Smansasi) 2015 'Laa Tahinu, Qowilillahi ta'ala' yang dilaksanakan bulan Februari 2015.
Penulis, Widasari, kelas XI MIPA 10 2014/2015 dapat dihubungi melalui account twitternya @widdsarr
0 comments:
Posting Komentar