Rabu, 25 Maret 2015

Filled Under:

KOMPILASI 2015

Assalamu'alaikum wr.wb.
Alhamdulillah, kami IRMAN telah menyelenggarakan kegiatan KOMPILASI dengan lancar, dan salah satu lombanya adalah CERIS (Cerita Islami), yang merupakan lomba membuat cerpen islami antar kelas. 

Dan berikut adalah cerpen para pemenang:


Peringkat 3 : "Anna" oleh Widasari.
ANNA

Para pelayat sudah pergi meninggalkan makam sejak setengah jam yang lalu, hingga hanya tersisa satu orang yang masih berdiri diam di situ. Anna menunduk, menatap lurus gundukan tanah basah bekas hujan yang baru saja mengubur jasad orang yang terpenting di hidupnya, yang sejak dulu Anna pikir ia tidak akan bisa hidup tanpanya.
Belum tuntas masalahku dengan Lisa, kenapa sekarang Mama yang harus pergi?
Sungguh, Anna tidak bisa membayangkan bagaimana kehidupannya setelah ia meninggalkan makam. Sejak dulu Anna berprinsip, ia hidup untuk membahagiakan Mama seorang. Mama yang telah melahirkannya ke dunia dan merawatnya seorang diri—hingga kemarin malam. Setelah Mama menghembuskan nafas terakhirnya, untuk siapa lagi Anna berjuang? Untuk siapa lagi Anna hidup?
***
Tiga hari setelah Mama pergi.
Hari ini hari pertama Anna masuk sekolah setelah harinya terpuruk itu. Setibanya di kelas, ia mendapati teman-temannya sibuk berkutat dengan buku Agama masing-masing. Ada ulangankah? Anna tersenyum kecut. Ia sama sekali belum mempersiapkan apa-apa untuk ulangan yang tak diketahuinya ini.
Ketika Anna sampai di bangkunya, ia melihat Lisa sedang duduk di bangku sebelahnya. Gadis itu sibuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dari buku cetak yang tampaknya akan menjadi materi ulangan nanti. Tiba-tiba Lisa menoleh dan sejenak tatapan mereka bertemu. Anna membeku di tempat, sementara Lisa melengos dan memalingkan wajah ke buku di hadapannya.
Sudah setengah jam ulangan dilaksanakan. Namun Anna hanya menatap kosong kertas soal di hadapannya. Ia melirik Lisa yang sibuk mengerjakan soal. Kertas jawabannya sudah hampir penuh. Sebuah ide tiba-tiba melintas begitu saja di otaknya yang sudah nyaris lumpuh. Tanpa sadar Anna mencondongkan tubuhnya mendekat ke arah Lisa, lebih tepatnya mendekat ke kertas jawabannya. Tulisan rapi Lisa mulai terbaca oleh matanya.
Tepat pada saat Anna menyadari perbuatannya, Lisa juga sedang menoleh ke arahnya. Kedua matanya melebar, sementara Anna tergagap. “A-aku…”
“Kamu mau mencontek, ya?” seru Lisa tidak senang. Anna bisa merasakan berpasang-pasang mata yang terarah padanya, efek volume suara Lisa yang menggema di kelas yang hening itu. Lama Anna membeku di tempat, hingga Pak Rasyid sudah berdiri di samping meja mereka dan mengambil kertas milik Anna.
“Ikut Bapak sekarang,” perintah Pak Rasyid dengan suara rendah yang mampu menciutkan nyali siapa saja yang mendengar, terutama Anna sendiri. Anna berdiri dan melangkah gamang ke luar kelas mengikuti Pak Rasyid. Hatinya bergemuruh. Ia tidak menyangka Lisa ternyata semarah ini padanya.
Anna sangat sadar, perbuatannya tadi memang salah. Sejak dulu ia menanamkan prinsip itu di bawah sadarnya. Prinsipnya itulah yang menjadi akar permasalahannya dengan Lisa. Berbuat curang itu dosa. Anna masih ingat persis kata-kata Mama saat pertama kali mengajarinya untuk jujur.
Mama.
Seluruh tubuhnya gemetar, ketika ia tersadarkan kembali oleh kenyataan pahit itu. Rahang Anna mengatup kuat-kuat, menahan isakannya yang sudah berada di tenggorokan melompat keluar, namun usahanya gagal. Air matanya mengalir lagi, kali ini Anna tidak berusaha mencegahnya..
Aku tidak kuat, Ma. Aku tidak kuat.
***
Anna berdiri menatap gapura besar di hadapannya. Gapura gerbang pemakaman umum, tempat ia bisa mengunjungi Mama lagi sekarang.
Ia sadar, datang ke tempat ini malah akan membuat luka lamanya terbuka kembali. Malah semakin menyulitkannya untuk mengikhlaskan kepergian Mama. Dan perbuatan seperti itu jelas-jelas adalah dosa, karena bagaimanpun Mama juga salah satu dari milyaran ciptaan Allah swt., yang suatu saat harus kembali lagi pada-Nya. Tapi masalahnya, Anna benar-benar tidak lagi tahu siapa dirinya sekarang tanpa Mama. Tanpa Mama, Anna merasa lemah, merasa kosong, merasa bagaikan anggrek yang kehilangan pohon inangnya, yang tanpanya anggrek tidak bisa lagi bertahan hidup dan kemudian mati.
Dan ketika ia berdiri lagi di hadapan makam untuk kesekian kalinya, tikaman tepat di hatinya membuat Anna benar-benar yakin, kelemahannya saat ini cepat atau lambat akan membuatnya tidak lagi bisa bertahan lebih lama lagi. Dan dengan begitu, ia bisa menyusul Mama. Lagi pula­—Anna tersenyum perih­—ia tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Jadi untuk siapa lagi dia hidup sekarang?
Anna berbalik pergi dari makam, menyusuri areal pemakaman dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Lama Anna terus melangkahkan kakinya tanpa arah pasti, hingga ia merasakan kakinya mulai pegal karena terus berjalan. Ia berhenti berjalan dan terpaku ketika mendapati dirinya sedang bersandar pada pagar pengaman jembatan. Anna berbalik dan menunduk, menatap lurus permukaan sungai besar yang mengalir cukup deras di bawahnya. Di musim hujan begini, air sungai itu pasti dingin sekali. Kalau saja Anna terjatuh ke dalamnya, ia pasti akan hanyut dan mati beku, dan ia tidak akan lagi merasakan bagaimana menjadi orang lemah di tengah kehidupan yang keras tanpa Mama. Ya, ia hanya perlu jatuh, dan semua akan selesai.
Aku pulang, Ma.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik Anna dengan kasar menjauhi pagar jembatan. Belum sepenuhnya Anna tersadar, kemudian ia merasakan tubuh besar yang mendekapnya erat sambil mengucapkan takbir dan istighfar berkali-kali. Tante Dina.
Tante Dina melepas pelukannya dan Anna bisa melihat berbagai macam gejolak emosi yang terpancar dari kedua mata yang menatapnya. Kemudian ia mendengar Tante Dina berkata, “Seberat apapun masalah yang kamu hadapi, bunuh diri bukan jalan terbaik untuk menuntaskan semuanya, Anna. Istighfar! Bunuh diri itu dosa besar yang tidak akan diampuni Allah, Anna!”
Anna masih terdiam. Pikirannya berkecamuk, bahkan ia sendiri tidak bisa memilah apa-apa saja yang bergemuruh di kepalanya saat ini. Tapi ada satu hal yang melekat erat di otak Anna sampai saat ini, satu hal yang membuat gadis itu nyaris membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Detik itu Anna kembali menumpahkan air matanya, kali ini bersama seluruh beban yang selama ini menghimpit dadanya. “Anna tidak bisa lagi hidup sendiri tanpa Mama. Anna tidak tahu untuk apa dan siapa Anna hidup setelah Mama pergi. Lebih dari semua itu, Anna hancur, Tante.” Tante Dina membiarkan keponakannya meraung-raung di dekapannya selama beberapa saat.
“Kita semua tidak pernah sendiri di dunia ini, Anna. Innallaaha ma’ana. Allah selalu bersama kita. Kita memang lemah. Lemah di hadapan-Nya. Tapi Yang Mahabesar selalu menguatkan hamba-hambanya yang bertakwa.”
Anna tercekat. Suara Tante Dina begitu lirih bagaikan hembusan angin. Namun Anna bisa mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya ia merasakan segenap hatinya damai. Damai karena Tante Dina. Damai karena ia tahu, meskipun tanpa Mama, ia akan selalu kuat selama bersama Allah ta’ala.
Laa tahinu qawilillaahi ta’ala. Laa tahzanu innallaaha ma’ana.


Peringkat 2 : "Remember" oleh Syavana Levaretna Arsy

Remember
”Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”
QS. Al-Kahfi : 28
~
Ayunan kuning yang berderit.
Perosotan yang basah.
Jungkat-jungkit yang berbunyi karena terkena air hujan.
Aku berdiri di sana, memperhatikan bagaimana air hujan jatuh membasahi rerumputan dan dedaunan yang jatuh, sebelum meresap masuk ke tanah. Aku memperhatikan betapa cepatnya awan kelabu bergerak tertiup angin. Aku memperhatikan bagaimana burung terbang dengan sayap-sayap mereka, semakin jauh ke langit. Aku memperhatikan bagaimana bulu burung itu jatuh sesaat setelah mereka terbang – meliuk-liuk, berputar, tertiup angin, lalu mendarat di tanah.
Aku memperhatikan hampir segalanya. Setiap detail dari sebuah kejadian – aku mengingat semuanya.
Aku ingat bagaimana ayah memukul ibu saat ia sedang mabuk. Aku ingat bagaimana besarnya emosi ayah. Kemarahan, kebencian, putus asa. Beliau menarik ibu ke ruang tengah, sedang aku di dorongnya masuk ke kamarku, membiarkanku mendengar semua jeritan ampun ibu, suara barang pecah, suara amuk ayah, teriakan ibu yang melengking hingga aku berdoa kepada Allah untuk memohon agar Ia menghukum ayahku.
Sebutlah aku anak durhaka, tetapi kalau kau berada di posisiku, terkunci dan tidak bisa melakukan apa-apa, kau pasti akan melakukan hal yang sama.
Senyuman pahit timbul di wajahku semakin aku mengingat semua kejadian itu.
“Ya Allah hukum ayahku!”
Ibu tidak pantas mendapat semua hal itu. Ibu tidak pantas mendapat semua hal yang ayah lakukan.
Tiba-tiba pintu kamarku terbuka. Ayah masuk membawa sebuah botol dengan terhuyung-huyung. Beliau melihatku, lalu wajahnya yang semula tampak lelah kemudian kembali memperlihatkan amarah dan kebenciannya. Ia kemudian memukul kepalaku dengan botolnya hingga botol itu pecah. Darah segera mengalir dari pelipisku, membuat mata kananku terpejam.
Lari adalah satu-satunya jalan untukku agar tidak terkena pukul lagi. Namun setelah aku berlari keluar kamar, aku mendapati tubuh ibu yang tersungkur di lantai. Beliau sudah tidak bernyawa.
Aku ingat betapa besarnya keinginanku untuk mati pada saat itu.
“Nuka?”
Lamunanku terpecah. Mataku kemudian terfokus kepada seorang perempuan yang berdiri tak jauh di belakangku. Kerlingnya memancarkan kesedihan saat kami bertatapan.
~
Aku ingat saat mama mengantarku ke rumah sakit. Dokter menyapaku dengan ramah lalu menyuruhku berbaring di sebuah kasur untuk diperiksa. Beliau tampak memeriksa keadaanku dengan stetoskop, menyuruhku menjulurkan lidah, lalu menyorotkan senter kecil ke kedua mataku. Dahinya mengernyit sesaat, lalu beliau menanyakanku apakah aku sering merasa sakit kepala.
Sakit kepala adalah hal biasa untukku, namun rasanya luar biasa. Ketika datang, rasanya kepalaku ingin pecah sehingga aku sering membenturkan kepalaku ke dinding perlahan-lahan. Tapi aku tidak cerita itu ke dokter dan ke ibu. Aku tidak ingin membuat mama khawatir dengan kesehatanku.
Seminggu kemudian, aku kembali mendatangi dokter itu, namun kali ini aku bersama papa. Rasa sakit kepalaku semakin parah dan lebih sering. Beberapa kali aku pingsan di rumah, atau muntah sehingga aku tidak bertenaga karena semua makanan kukeluarkan kembali.
Dokter kembali memeriksaku, namun beliau memeriksa mataku sedikit lebih lama. Wajah dokter terlihat agak serius setelah aku selesai diperiksa. Ia berbincang sesuatu dengan papa, kelihatannya sesuatu yang sangat penting. Tak lama, papa memanggilku, menyuruhku untuk duduk di sampingnya, dan memintaku untuk tetap tenang dengan apa yang akan beliau katakan.
Aku hanya terdiam sambil mencerna informasi yang baru saja kuperoleh. Papa dan dokter memandangku dengan sedih, tapi aku membalas mereka dengan senyum.
‘Oh, pantas saja kepalaku sangat sakit,’ pikirku dalam hati setelah mendengar berita itu. ‘Ada tumor di kepalaku.’
Setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi, tapi saat aku membuka mata, sudah ada selang infus menempel di lengan kiriku. Lalu ada mama di sampingku; matanya merah dan bengkak. Mama kenapa? Mama kenapa menangis?
 “Lisa,” panggilnya, mengembalikan pikiranku yang semula tanpa sengaja masuk kembali ke ingatan-ingatan masa lalu. “Ada apa?” tanya Nuka.
Aku tersenyum melihat tatapannya yang penuh pertanyaan. “Jangan melamun,” jawabku lalu duduk di kursi kecil di bawah sebuah pohon yang rindang.
Nuka menghampiriku dan duduk tak jauh dariku. “Kamu juga jangan melamun,” balasnya, matanya menatap ke awan kelabu yang sedari tadi tidak berhenti bergerak. “Lagipula, apa kamu boleh jalan-jalan seperti ini?” Nuka bertanya tanpa mengalihkan pandangannya dari langit.
“Tidak apa-apa kok,” aku tertawa kecil sambil bersandar pada kursi, lalu ikut memperhatikan awan-awan di langit.
“Tapi besok–”
“Operasi pengangkatan tumor,” potongku, “Aku ingat itu, Nuka, aku tidak akan lupa kalau besok adalah hari besar.”
Angin bertiup perlahan, membuat ayunan kuning di ujung bergerak-gerak dan berderit kecil. Hujan perlahan reda, meninggalkan hanya gerimis halus di angkasa. Aku menghela nafas sambil memperhatikan cahaya matahari yang berusaha menerobos masuk melalui celah-celah awan tebal itu.
“Nuka?”
“Ya?”
“Dokter berkata kalau akan ada kemungkinan hilang ingatan setelah operasi selesai, itu jika operasi itu berhasil,” ujarku. “Jadi aku ingin berterima kasih karena kamu sudah menjadi teman senasibku.”
Dia tertawa tepat setelah mendengar kata ‘senasib’ yang kuucapkan. “Aku juga mau berterima kasih karena sudah membantuku untuk bisa mengikuti operasi besok. Kalau kita saling lupa, kita bisa kenalan lagi, kan?”
Aku mengangguk. “Ya, tentu. Tapi aku masih tidak percaya kamu dapat tumor karena dipukul botol,” ujarku.
“Apapun bisa terjadi kalau Allah mengizinkan,” jawabnya. “Selama kita terus sabar dan tetap berdoa kepada Allah, aku yakin kita bisa melewati ujian-ujian-Nya.”
Aku mengangguk setuju. Sebuah senyum terkembang di wajahku, lalu aku menatap Nuka. “Allah mencintai hamba-Nya yang kuat, apa menurutmu kita sudah termasuk golongan itu?” tanyaku.
“Tentu saja, kita sudah melewati banyak hal. Mungkin tidak sekuat yang kita bayangkan, namun aku tahu kalau kita bukan pribadi yang lemah.”
Kami tersenyum dan tertawa, lalu kembali melihat ke langit. Banyak hal yang sudah terjadi kepadaku dan Nuka di masa lalu. Manis atau pahit, kami sama-sama menelannya. Karena kami tahu selalu ada harapan di setiap rintangan.
“Lisa?”
“Ya?”
“Semoga kita masih bisa mengingat satu sama lain ya.”
“Amin.”

 Peringkat 1 : "Di Ujung Selat Karimata" oleh Ika Madina. 

Di Ujung Selat Karimata
Aku pernah melihat sosok malaikat, tapi rupanya jauh dari bayangan, jauh dari kisah-kisah epik dalam kelas yang sebenarnya hanya santri duduk melingkar di bawah saung jerami, berceloteh hingga gelap hinggap, biru turun tahta dari angkasa, merah dan hitam berkuasa. Purnama siap-siap mengintip.
Aku pernah melihat malaikat. Dia tidak bersayap, tidak bergelimang cahaya seperti mentari, tidak gemilau seperti bintang-bintang hitam putih televisi. Dia hanya berjilbab keruh yang ujung-ujungnya menguning, kulitnya gelap, dan aku yakin dia bahkan tidak mengerti cara menyalakan televisi. Tapi jika tersenyum maka sejagat kalah cantiknya. Ketika bibirnya terangkat melengkung ke atas, maka di saat itulah ombak menggulung kemudian bertolak, di saat itulah malam jinjit dan pergi mengendap, mengejar mas senja di ujung Selat Karimata. Di saat itulah kicau burung berubah mendayu, sepintas seperti lagu merayu. Di saat itulah jilbab hijau-kuning dan dua bola mata hitam kaca dan pundaknya yang tegap saking mahirnya menggenggam obor dan mengokang tuas harpun mendadak disihir menjadi malaikat, padahal waktu bukan jam dua belas, padahal dia bukan Cinderella. Aku gemetar, kemudian merapal istighfar, karena bagaimana bisa manusia secantik ini menambat tali dan menikam punggung hiu dalam kesehariannya?
Ketika kami bertemu, aku adalah manusia galau yang paling bahagia di dunia dan dia adalah orang tersenyum yang paling sedih di jagat raya. Aku menyeret kakiku di tengah dalamnya pasir putih, sandalku ditelan lahap-lahap. Saat itu dia sedang termenung duduk di pinggir perahu, kakinya bertengger dalam lubang palka.
“Jangan diangkat! Seret saja!” Suaranya agak berteriak, miris melihat keadaanku.
Ketika aku sampai di sisinya, ia tahu maksud kedatanganku disini bukan hanya sekedar menonton wajah-wajah nelayan atau kafilah bocah-bocah ingusan bermain di buritan. Tak salah juga. Aku berpakaian jaket lusuh dengan buku catatan di saku dan kamera digital rongsokan dikalungi, diikat tali sepatu lama yang menciut seiring waktu. Gambaran apa yang kau dapat?
“Pulang, a’, tidak ada yang bisa kau liput disini. Ke kiri, anak-anak main di buritan. Ke kanan, a’a lihat lebih banyak biru. Biru, biru laut. Gulung ombaknya tarik-menarik. Deburnya timbul tenggelam.”
Aku mendengar si gadis bercerita, padahal aku bahkan tidak tahu menahu ia bicara dengan siapa. Matanya pada laut, bukan padaku.
Ceritanya tidak kalah seru. Dari hilir mudik orang-orang pangkalan, mulai dari ngkoh-ngkoh Tionghoa sampai ke bapak-bapak Melayu yang kerjanya memaki-maki pemerintah. Kalau sedikit lebih siang maka terkadang tampil juga penjaja kue baskom, pedagang bumbu dapur, pedagang ikan yang baunya merebak ikan pari. Hanya dibutuhkan setengah jam mengayuh sepeda dari pangkalan ini ke sebuah pasar, dan wajar wajah-wajah senyum miris para pedagang kaki dua untuk tampak sehari-hari. Kalau mereka tersenyum, terlihat dua sampai lima lubang ompong.
Tapi aku kesini bukan untuk membuat riset soal komunitas pangkalan. Bukannya dibayar dengan sebungkus nasi padang dan kopi dua sendok gula, tapi dibayar dengan segenap tinju. Aku sudah terlalu membenci hidupku untuk dibogem sampai biru.
Aku ingin menulis tentang figur yang aku percaya paling pantas untuk diulas di kampung kecil kita ini. Aku ingin dunia tahu akan Zahinah binti Zahir, wanita paling tangguh yang pernah aku empat mata bertemu.
“A’a salah kalau mau mencari buat diwawancara,” jawabnya, masih asik memandang biru laut, “saya terlalu sederhana untuk tulisan. Sekarang lebih baik a’a pulang, kemudian datang lagi bukan ke saya. Coba ke Pak RT! Dia orang pintar, saya bahkan huruf yang berbentuk bunder dan yang bentuknya lurus tidak bisa membedakan cara bacanya.”
Besoknya, aku datang lagi. Kepadanya. Bukan Pak RT. Karena Pak RT bukan Zahinah binti Zahir, yang umurnya lebih muda dariku, yang berlayar seperti gadis lainnya menyiapkan acar, yang melintasi lor-lor garang bersama perahu sederhananya seperti gadis seumurannya memasak nasi. Zahinah tinggal sebatang kara, ayahnya menutup mata ditelan bulat-bulat oleh biru laut. Mungkin kalau aku Zahinah, aku akan membenci hidupku lebih aku membenci hidupku sekarang.
“A’a ada apa kesini lagi? Rumahnya Pak RT selatan-utara dengan di sini, a’.”
“Bawa aku berlayar,”
Zahinah terlihat setengah terperanjat, setengah berkesimpulan aku gila. Sebenarnya benar juga. Aku agak mabuk laut.
“Ya… ya,”
Aku ingin menjadi saksi akan ketangguhan Zahinah binti Zahir. Aku ingin melihatnya menantang pusaran dahsyat, membanting Laut Cina Selatan, merasakan perahu bergoyang halus sembari Zahinah berseteru dengan materi yang menyita ayahnya darinya, merasakan perahu bergemetar, mengecap takut dan suspensi dalam satu rasa. Aku ingin mencintai hidupku yang bosan dan suntuk. Aku ingin belajar dari Zahinah.
Esoknya, pagi buta, kami bertolak ke arah barat laut. Belum-belum, perahu terlontar dihisap tiba-tiba oleh pusaran, hasil Laut Jawa reuni akbar bersama Laut Cina Selatan. Papan-papan bergemelutuk. Otak berkata untuk menyelamatkan diri. Hati berkata untuk menyebut-nyebut Allah SWT. Refleksku menggenggam catatan saku dan bolpoin seribu rupiah. Aku melakukan ketiga-tiganya sekaligus.
Perahu melepaskan diri dengan meluncur perlahan melawan arus pelan-pelan tapi pasti. Ketika kami lolos dengan nyawa dikandung raga, aku langsung mengosongkan isi lambung. Zahinah menahan tawa melihat wajahku yang pucat. Ketika aku memuntahkan seluruh isi dan posisiku membuat catatan saku jatuh ke biru, biru laut, Zahinah akhirnya tertawa lepas.
“Aku kesini ingin berburu hiu gergaji.”
“Kau gila,” adalah jawabku.
“Usah kau lara sendiri, a’a. Mereka sedang berenang menuju Kuala Trenggano. Kita butuh uang. Uang bisa untuk beli kue mangkok…”
Yang kami lakukan adalah menghadang sebuah barisan ikan hiu gergaji. Bergegas aku kokang tuas harpun, bersiap membidik hiu. Makin gentar aku melihat ukurannya yang mengalahkan perahu sederhana kami.
“Tembak, a’!”
Sebelum aku bisa menginjak pegas tuas, aku terpelanting seiring bayang kelabu di dalam air menabrak kencang perahu. Aku hilang keseimbangan, nyaris tertujam ke laut sebelum Zahinah menarik kerah bajuku, melemparkan aku kembali ke perahu. Aku tersungkur tersuruk-suruk sambil menyaksikan Zahinah mengerahkan tempuling, menikam sukses ikan hiu. Melihatnya, aku bangkit, meraih tali tempuling. Zahinah sempat terlihat kaget, dan untuk kali ini, ia menoleh padaku. Aku empat mata dengan gadis sebatangkara paling kuat di dunia.
“Zahinah binti Zahir, bagaimana bisa seseorang sepertimu terlihat begitu menikmati hidup?!” Bagaimana orang yang telah dirampas segala yang ia miliki bisa begitu kuat? Begitu tegar?
Dan kali ini Zahinah tersenyum, dan dari dalam diriku meletup sebuah perasaan. Perasaan yang tidak mampu aku jelaskan.
Dijawab oleh Zahinah binti Zahir, “Laa Tahinu, Qawilillahi ta’ala! (Jangan lemah, kuat karena Allah!)”

CERPEN PILIHAN JURI (pantas dipublikasikan bersama tiga cerpen pemenang) : 


"Ketika Jilbab Menyapa" oleh Rania Aisyah. 

Ketika Jilbab Menyapa
           
Indah kurasakan, hidup di Indonesia ini. Orang-orang selalu menjunjung Bhinneka Tunggal Ika. Memang iya, semua masyarakatnya hidup membaur penuh rasa damai. Kami berinteraksi tanpa mempermasalahkan apa keyakinan kami. Ah, iya, aku Wafa, Wafa Ramadhani. Yang daritadi aku gumamkan memanglah apa kata hatiku saat ini. Aku dan temanku, Aliya adalah siswi-siswi lulusan pondok pesantren setingkat SD dan SMP di Purwakarta yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri karena menurut orang tua kami SNMPTN melalui SMA Negeri jauh lebih mudah didapat. Inshaa Allah cita-citaku ingin menjadi dokter yang sukses membantu orang-orang di sekitarku. Awalnya, aku sempat berpikir, setelah aku 8 tahun tinggal di pondok pesantren lalu aku kembali ke lingkungan heterogen aku akan diasingkan karena mungkin aku akan menghadapi beberapa perbedaan pendapat, terutama masalah penampilan. Tapi nyatanya, tak pernah kudengar sedikit pun cibiran karena aku memakai jilbab. Aku dan Aliya bisa bermain dengan teman-teman sebaya yang tidak memakai jilbab tanpa ada diskriminasi.
Tiba saatnya masa pendaftaran sekolah. Dengan bekal nilai akademis yang cukup tinggi, aku dan Aliya memberanikan diri mencantumkan nama di sebuah sekolah bergengsi di Purwakarta yang terkenal dengan prestasi akademisnya. Sungguh senang hatiku melihat calon-calon siswi muslimah yang juga kebanyakan memakai jilbab. “Akhirnya aku temukan lagi zona jilbab,” pikirku. “Fa, kenapa ya guru-guru di sini kok tidak ada yang memakai jilbab? Bukankah sekolah ini sekolah umum sehingga guru-guru muslimah juga bisa mengajar di sini?” celetuk Aliya. Aku diam sejenak, tersadar juga atas pertanyaan Aliya. “Allahu’alam bissowab, semoga Allah segera memberikan hidayah untuk berjilbab jika ada muslimah di sana, Al,”.
5 Juli 1994, nama-nama siswa dan siswi yang diterima diumumkan. Sekolah tampak ramai dan bising sekali. Tampak akhwat dan ikhwan berbaur tanpa sekat. Aku dan Aliya menunggu di masjid sambil menunggu keramaian mereda. Setelah agak sepi, kami menghampiri papan pengumuman dan mencari  nama kami. Alhamdulillah, kami berdua diterima dan dengan urutan peringkat yang cukup memuaskan. Lusa akan ada rapat bagi orang tua siswa dan siswi yang diterima, jelas di papan pengumuman. Kami berdua pulang ke rumah dengan sumringah mengabarkan orang tua kami. Aku juga bercerita bahwa aku menemukan kembali zona berjilbab, ummi pun ikut gembira.
Lusa itu pun akhirnya datang. Ummiku dan ummi Aliya berangkat bersama menuju sekolah untuk datang mendengarkan rapat mengenai aturan-aturan yang akan diberlakukan selama kami menuntut ilmu di sana, sedangkan aku dan Aliya mengaji bersama di Masjid Al-Furqoon dekat rumah kami. Sekitar hari siang bolong ummi sampai di rumah. Entah kenapa, raut wajahnya bak memanggul beban pikiran yang berat. T’lah habislah makan siangnya, ummi akhirnya buka bicara. Aku menelaah dalam-dalam tatapan matanya, hendak membicarakan sesuatu yang serius. “Wafa, ummi harap kamu terus dapat mempertahankan jilbabmu ya, nak...”, sontak aku pun kaget “Inshaa Allah jika Allah memerintahkan apapun yang terbaik untuk manusia, Wafa akan menjalankannnya dengan ikhlas, Mi,” “Jadi sebenarnya ada apa ‘sih, Mi?” “Hasil rapat tadi salah satunya adalah larangan mengenakan jilbab selama berada di lingkungan sekolah, Ummi sungguh tak tahu apa yang harus kita lakukan, nak...”, jelas Ummi. “Lho?! Kenapa bisa begitu, Mi? Bukannya sekolah itu adalah sekolah umum ya? Pantasnya mereka menghormati perintah-perintah masing-masing agama dong!” “Justru itu, Nak. Dikarenakan sekolah umum maka pihak sekolah melarang penggunaan simbol-simbol keagamaan supaya menghindari diskriminasi agama. Dan apabila siswi tidak terima maka pihak sekolah dengan senang hati akan membiarkan siswi belajar tanpa pengajar, tanpa ruang kelas, tanpa fasilitas, bahkan tak segan mengeluarkan siswi tersebut,” makin terhempas saja hatiku mendengarnya, “Sungguh tidak dapat ditolerir, Wafa ingin pindah sekolah sajalah, Mi. Wafa akan pergi mencabut berkas,” “Tidak bisa, Nak. Mengurus data-data pindah sekolah akan jauh lebih rumit. Satu-satunya jalan yang terpikir oleh ummi adalah perkataanmu yang tadi kau ucapkan,” jawab ummi. “Ucapanku yang mana, Mi? Aku tidak mengerti maksud Ummi,” tanyaku,  “Inshaa Allah jika Allah memerintahkan apapun yang terbaik untuk manusia, Wafa akan menjalankannnya dengan ikhlas,” “Percayalah, Nak. Ini adalah jalan terbaik Allah untukmu.. Laa Tahinu, Qawlillahi Ta’ala,” aku diam, tanpa ada sepatah kata pun keluar dari mulutku, kuberikan senyumku untuk membalas senyuman ummi yang terasa sejuk.
Sehabis aku sholat Maghrib, aku duduk berlutut dan mengadukan semua masalahku kepada Allah Al-Malik, tak terasa air mataku bercerai berai. “Bagaimana bisa aku akan bertahan 3 tahun tanpa ada teman, kelas, bahkan pengajar?  Bagaimana jalanku menuju cita-cita yang sangat kuimpikan?” pertanyaan semacam itu selalu muncul dalam pikiranku. Tetapi, yang selalu kuingat adalah Laa Tahinu, Qawlillahi Ta’ala, Jangan lemah kuat karena Allah....
Singkat cerita, aku dan Aliya mulai memasuki tahun ajaran baru, yaitu hari pertama kami bersekolah di situ. Semua orang yang kami lewati, aku merasa seperti mereka membincarakanku. Mungkin karena kami aneh, tetap mengenakan jilbab ke sekolah. Hari pertama itu kami langsung dipanggil oleh pihak kesiswaan, dia berkata bahwa jika esok hari kami masih memakai jilbab maka tak segan untuk membiarkan kami belajar tanpa arah. Keberanianku tak sebegitu cepat mundur. Esok hari aku dan Aliya tetap memakai jilbab putih bersih dan panjang. Dan lagi, pulang sekolah kami berdua dibawa ke ruang kesiswaan. Sekali lagi dia memperingatkan bahwa kami akan tidak dianggap sebagai siswa sekolah tersebut. Dengan penuh rasa kecewa aku dan Aliya pulang.  Tapi kata itu sangat mempengaruhi isi otakku. Aura-aura motivasi selalu saja bertambah sangat kuingat kata-kata itu.
Seiring berjalannya hari, benarlah adanya ancaman itu. Aku dan Aliya belajar di laboratorium kimia, letaknya di pinggir gedung sekolah bak terisolasi, tanpa ada guru, meraba-raba jalan keluar sendiri istilahnya. Terdiskriminasi oleh teman-teman yang memandang kami ‘wanita berjilbab’. Sungguh, hari-hari yang kami lalui sangatlah berat. Subhanallah, Allah masih memberiku kekuatan untuk tetap berdiri tegak di jalan-Nya. Satu semester t’lah berlalu. Masih untung ada raport untuk aku dan Aliya. Dan kabar sedihnya lagi, Aliya tidak akan meneruskan bersekolah di situ lagi. Dia memutuskan untuk belajar di pondok pesantren saja. Tinggallah aku sendiri.
Tahun 1997, Alhmdulillah aku mencapai hasil puncak yaitu kelulusan. Aku dinobatkan sebagai murid terbaik karena nilai nemku yang hampir sempurna yaitu 39,75. Tapi aku menganggapnya sebagai anugerah atas perjuanganku mempertahankan jilbab di tengah masyarakat sekuler. Selepas cerita keberhasilanku, sekolah itu akhirnya memperbolehkan pemakaian jilbab untuk muslimah. Aku merasa bangga mewariskan jalan terbaik untuk para muslimah mendatang. Sungguh, Allah niscaya akan memberikan jalan bagi siapapun hamba-Nya yang ikhlas berjuang di jalan-Nya, Laa Tahinu, Qawlillahi Ta’ala.
"Tentang Sebuah Sapu Tangan Biru" oleh Frisca Silmy Elfiona.

Tentang Sebuah Sapu Tangan Biru
           Satu detik, dua detik, tiga detik. Entah sudah berapa detik yang telah ia hitung dalam hati. Begitu banyaknya, hingga ia lupa angka terakhir yang ia ucapkan, dan terpaksa menghitung ulang dari satu. Apakah ia akan siap? Apakah masa depannya nanti cerah? Pertanyaan semacam itu selalu terbesit ditengah hitungannya. Matanya mulai memanas dan buram. Tetes air mata pertama jatuh. Cepat-cepat ia mengusap matanya menggunakan punggung tangannya, namun gerakannya terhenti saat sebuah sapu tangan biru terulur dihadapannya.
            Seorang gadis, entah kapan dan bagaimana, telah duduk disampingnya, menyodorkan sehelai sapu tangan. Diraihnya sapu tangan biru itu, sekuat tenaga berusaha untuk tersenyum. Dia baru saja hendak mengucapkan terima kasih, saat gadis itu, seolah sudah lama saling mengenal, berkata, “Berhentilah berhitung. Walau ribuan kali pun, bukan tenang, malah lelah yang kau dapat. Ucapkanlah, subhanallah,  walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah, wallahu-akbar sebanyak 25 kali, lalu ceritakan kepadaku apa yang kau rasakan besok. Disini.” Setelah gadis itu pergi, ia mengikuti saran gadis itu. Sekali, dua kali, tiga kali, hatinya mulai hangat. Dua puluh tiga kali, dua puluh empat kali, dan dia pun jatuh tertidur dalam perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
            Pukul tujuh pagi ia terbangun dengan tangan yang masih menggenggam sapu tangan biru. Agak tergesa dibukanya pintu bertuliskan angka 103. Pandangannya langsung tertuju pada oscilloscope disebelah kanan ranjang dengan seorang pria terbaring tak sadarkan diri diatasnya. Nafas lega berhembus keluar dari hidungnya  melihat grafik turun-naik pada oscilloscope yang terhubung dengan tubuh pria itu. Tubuh ayahnya.
Saat ia membuka pintu,  hendak membeli makanan, gadis yang kemarin memberikan sapu tangan biru kepadanya sudah duduk dikursi tunggu, tersenyum padanya. Ia balas tersenyum. Kemudian bersama-sama, mereka menuju ke kafetaria dilantai satu.
Tiga langkah sebelum sampai di kafetaria, diulurkannya sapu tangan itu sambil mengucapkan terima kasih. Suara dalam otaknya berkata bahwa sepertinya, ia dan gadis ini akan bersahabat.  Dan suara pada otaknya benar, sapu tangan itu seolah menjadi simbol dimulainya persahabatan mereka.
            Seminggu sudah ayahnya tak sadarkan diri di rumah sakit, berarti seminggu sudah ia mengenal gadis itu. Saling bertukar cerita, dia menceritakan sahabatnya tentang ayahnya. Bagaimana beberapa jam sebelum ayahnya tak sadarkan diri, semuanya seolah sempurna. Saat tiba-tiba ayahnya mengeluh sulit bernafas. Tentang ucapan dokter bahwa ia harus siap, bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik, bahwa usia ayahnya hanya tinggal menghitung hari. Dan gadis itu bercerita tentang penyakitnya. Diagnosis dokter, tangisan kedua orangtuanya. Dan bagaimana ia percaya bahwa hidup dan mati sepenuhnya berada ditangan Allah ta’ala, bukan dokter. Hari ini pun, mereka bertemu dan ia berencana mengajak sahabatnya melihat ayahnya. Dan betapa remuk hatinya mendapati ayahnya kejang, dengan selang oksigen yang sudah berpindah dari hidung ke mulutnya,
            Lima belas menit kemudian ayahnya pergi. Seluruh badannya kebas, namun tak setetes pun air mata jatuh dari matanya. Air matanya baru tumpah saat ia melihat derai tangis ibunya. Sahabatnya merangkulnya dan  berkata, Ucapkanlah, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma ajirni fi musibati wa akhlif li khairan minha.” Seperti saat pertama mereka bertemu, ia mengikuti ucapan sahabatnya. Dan seperti saat pertama mereka bertemu, perasaannya menjadi lebih baik.
Sambil menggenggam tangannya, sahabatnya berkata, “Menangislah jika itu membuatmu tenang. Tetapi janganlah berlebihan, karena sesungguhnya mayit itu disiksa karena tangisan keluarganya. La Tahzan Wa Laa Tahinu, Qawi Lillahi ta’ala. Jangan bersedih dan janganlah lemah, kuatlah karena Allah. Aku yakin Allah punya rencana dibalik cobaan ini, dan aku yakin, kau mampu menghadapi ujian ini. Jadikanlah musibah ini sebagai pelajaran dan pecut untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik. Percayalah, musibahku juga tak kalah berat dari musibahmu. Mari bersama-sama kita menuju surganya dengan menjadi kuat karenanya.”
Rasa penasarannya terhadap makna kalimat, “Kuat karena Allah” dan rasa kekagumannya terhadap sahabatnya, menggerakan bibirnya mengutarkan langsung apa yang tersirat diotaknya sedetik sebelumnya, “Aku ingin memperdalam agamaku. Aku ingin menjadi muslimah yang sesungguhnya sepertimu.” Dan untuk pertama kalinya, ia melihat gadis itu tersenyum lebar.
Enam bulan berlalu sejak hari itu, dan perlahan tapi pasti, arah hidupnya berbalik menuju jalan yang lurus, jalan Allah ta’ala. Dari yang sebelumnya sering melalaikan sholat, jarang menyentuh Al-Quran, dan tidak pernah mengenakan jilbab serta menutup aurat, menjadi sebaliknya. Bahkan sekarang sunnah rasul seperti sholat malam dan puasa senin kamis sudah mulai dijalankannya. Baginya, kepergian mendadak ayahnya adalah bukti nyata akan keberadaan Allah ta’ala. Peringatan bahwa kita harus selalu siap menghadapnya, dan bahwa semua yang hidup pasti akan merasakan mati. Dalam doa’nya, tak lupa ia selipkan nama sahabatnya yang telah menuntunnya menuju jalan kebaikan. Yang membuatnya paham akan makna dari kalimat “Kuatlah karena Allah.”
 Malam itu, ia sedang menulis cerita pertemuan pertama dengan sahabatnya pada sebuah diary, ketika telepon berdering dari seseorang yang mengabarkan bahwa sahabatnya harus menjalani operasi pengangkatan sel kanker pada impuls otaknya. Secepat kilat ia menuju ke rumah sakit. Air mata berlinang dimatanya sepanjang perjalanan, namun ia yakin, sahabatnya tidak akan mengecewakannya. Maha pengasih Allah telah mengabulkan doanya. Operasinya berhasil dan sahabatnya itu siuman seminggu kemudian. Secepat kilat ia menuju rumah sakit dengan berlilnang air mata. Kini, air mata bahagia. Macetnya Jakarta membuatnya memilih jalan kecil yang hanya cukup untuk satu mobil. Namun malang tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Sebuah mobil pick-up dari arah berlawanan menerjang mobilnya. Terdengar suara pecahan kaca dimana-mana, kemudian ia merasa kedua kakinya terbakar, sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Matanya terbuka. Seluruh badannya nyeri, ubun-ubunnya perih, dan ke-dua kakinya tidak bisa digerakkan. Ia yakin tak lama lagi matanya akan tertutup kembali. Didapatinya sahabatnya tengah menggenggam tangannya. Ada berjuta hal yang ingin diucapkannya kepada sahabatnya. Ada berjuta kata perpisahan diujung lidahnya. Matanya buram, dan dejavu terasa saat sahabatnya membasuh air matanya dengan sapu tangan biru. Akhirnya dengan sisa tenaganya, ia berkata, “Lucu sekali takdir Allah, bukan? Saat orang mendengar kisah kita, mereka tentu berfikir kau yang pergi duluan.” Tawa kecil ia paksa keluar dari mulutnya. “Sekarang aku mengerti makna dari kuat karena Allah. Terima kasih. Terima kasih. La Tahzan Wa Laa Tahinu, Qawi Lillahi ta’ala , sahabatku.” Lalu sambil menggenggam sapu tangan biru ia memejamkan kedua matanya. Selamanya.


0 comments:

Posting Komentar

Copyright @ 2013 IRMAN SMANSASI.