Assalamu'alaikum wr.wb.
Alhamdulillah, kami IRMAN telah menyelenggarakan kegiatan KOMPILASI dengan lancar, dan salah satu lombanya adalah CERIS (Cerita Islami), yang merupakan lomba membuat cerpen islami antar kelas.
Dan berikut adalah cerpen para pemenang:
Peringkat 3 : "Anna" oleh Widasari.
ANNA
Para pelayat sudah pergi meninggalkan makam sejak
setengah jam yang lalu, hingga hanya tersisa satu orang yang masih berdiri diam
di situ. Anna menunduk, menatap lurus gundukan tanah basah bekas hujan yang
baru saja mengubur jasad orang yang terpenting di hidupnya, yang sejak dulu
Anna pikir ia tidak akan bisa hidup tanpanya.
Belum tuntas
masalahku dengan Lisa, kenapa sekarang Mama yang harus pergi?
Sungguh, Anna tidak bisa membayangkan bagaimana
kehidupannya setelah ia meninggalkan makam. Sejak dulu Anna berprinsip, ia
hidup untuk membahagiakan Mama seorang. Mama yang telah melahirkannya ke dunia
dan merawatnya seorang diri—hingga
kemarin malam. Setelah Mama menghembuskan nafas terakhirnya, untuk siapa
lagi Anna berjuang? Untuk siapa lagi Anna hidup?
***
Tiga hari setelah
Mama pergi.
Hari ini hari pertama Anna masuk sekolah setelah harinya
terpuruk itu. Setibanya di kelas, ia mendapati teman-temannya sibuk berkutat
dengan buku Agama masing-masing. Ada
ulangankah? Anna tersenyum kecut. Ia sama sekali belum mempersiapkan
apa-apa untuk ulangan yang tak diketahuinya ini.
Ketika Anna sampai di bangkunya, ia melihat Lisa sedang
duduk di bangku sebelahnya. Gadis itu sibuk menghafal ayat-ayat Al-Qur’an dari
buku cetak yang tampaknya akan menjadi materi ulangan nanti. Tiba-tiba Lisa
menoleh dan sejenak tatapan mereka bertemu. Anna membeku di tempat, sementara
Lisa melengos dan memalingkan wajah ke buku di hadapannya.
Sudah setengah jam ulangan dilaksanakan. Namun Anna
hanya menatap kosong kertas soal di hadapannya. Ia melirik Lisa yang sibuk
mengerjakan soal. Kertas jawabannya sudah hampir penuh. Sebuah ide tiba-tiba melintas
begitu saja di otaknya yang sudah nyaris lumpuh. Tanpa sadar Anna mencondongkan
tubuhnya mendekat ke arah Lisa, lebih tepatnya mendekat ke kertas jawabannya.
Tulisan rapi Lisa mulai terbaca oleh matanya.
Tepat pada saat Anna menyadari perbuatannya, Lisa juga
sedang menoleh ke arahnya. Kedua matanya melebar, sementara Anna tergagap. “A-aku…”
“Kamu mau mencontek, ya?” seru Lisa tidak senang. Anna
bisa merasakan berpasang-pasang mata yang terarah padanya, efek volume suara Lisa
yang menggema di kelas yang hening itu. Lama Anna membeku di tempat, hingga Pak
Rasyid sudah berdiri di samping meja mereka dan mengambil kertas milik Anna.
“Ikut Bapak sekarang,” perintah Pak Rasyid dengan suara
rendah yang mampu menciutkan nyali siapa saja yang mendengar, terutama Anna
sendiri. Anna berdiri dan melangkah gamang ke luar kelas mengikuti Pak Rasyid.
Hatinya bergemuruh. Ia tidak menyangka Lisa ternyata semarah ini padanya.
Anna sangat sadar, perbuatannya tadi memang salah. Sejak
dulu ia menanamkan prinsip itu di bawah sadarnya. Prinsipnya itulah yang
menjadi akar permasalahannya dengan Lisa. Berbuat
curang itu dosa. Anna masih ingat persis kata-kata Mama saat pertama kali
mengajarinya untuk jujur.
Mama.
Seluruh tubuhnya gemetar, ketika ia tersadarkan kembali
oleh kenyataan pahit itu. Rahang Anna mengatup kuat-kuat, menahan isakannya
yang sudah berada di tenggorokan melompat keluar, namun usahanya gagal. Air
matanya mengalir lagi, kali ini Anna tidak berusaha mencegahnya..
Aku tidak kuat,
Ma. Aku tidak kuat.
***
Anna berdiri menatap gapura besar di hadapannya. Gapura
gerbang pemakaman umum, tempat ia bisa mengunjungi Mama lagi sekarang.
Ia sadar, datang ke tempat ini malah akan membuat luka
lamanya terbuka kembali. Malah semakin menyulitkannya untuk mengikhlaskan
kepergian Mama. Dan perbuatan seperti itu jelas-jelas adalah dosa, karena
bagaimanpun Mama juga salah satu dari milyaran ciptaan Allah swt., yang suatu
saat harus kembali lagi pada-Nya. Tapi masalahnya, Anna benar-benar tidak lagi
tahu siapa dirinya sekarang tanpa Mama. Tanpa Mama, Anna merasa lemah, merasa
kosong, merasa bagaikan anggrek yang kehilangan pohon inangnya, yang tanpanya
anggrek tidak bisa lagi bertahan hidup dan kemudian mati.
Dan ketika ia berdiri lagi di hadapan makam untuk kesekian
kalinya, tikaman tepat di hatinya membuat Anna benar-benar yakin, kelemahannya
saat ini cepat atau lambat akan membuatnya tidak lagi bisa bertahan lebih lama
lagi. Dan dengan begitu, ia bisa menyusul Mama. Lagi pula—Anna tersenyum perih—ia
tidak punya siapa-siapa lagi di sini. Jadi untuk siapa lagi dia hidup sekarang?
Anna berbalik pergi dari makam, menyusuri areal
pemakaman dan berjalan cepat meninggalkan tempat itu. Lama Anna terus
melangkahkan kakinya tanpa arah pasti, hingga ia merasakan kakinya mulai pegal
karena terus berjalan. Ia berhenti berjalan dan terpaku ketika mendapati
dirinya sedang bersandar pada pagar pengaman jembatan. Anna berbalik dan
menunduk, menatap lurus permukaan sungai besar yang mengalir cukup deras di
bawahnya. Di musim hujan begini, air sungai itu pasti dingin sekali. Kalau saja
Anna terjatuh ke dalamnya, ia pasti akan hanyut dan mati beku, dan ia tidak
akan lagi merasakan bagaimana menjadi orang lemah di tengah kehidupan yang keras
tanpa Mama. Ya, ia hanya perlu jatuh, dan semua akan selesai.
Aku pulang, Ma.
Tiba-tiba sebuah tangan menarik Anna dengan kasar
menjauhi pagar jembatan. Belum sepenuhnya Anna tersadar, kemudian ia merasakan
tubuh besar yang mendekapnya erat sambil mengucapkan takbir dan istighfar
berkali-kali. Tante Dina.
Tante Dina melepas pelukannya dan Anna bisa melihat
berbagai macam gejolak emosi yang terpancar dari kedua mata yang menatapnya.
Kemudian ia mendengar Tante Dina berkata, “Seberat apapun masalah yang kamu
hadapi, bunuh diri bukan jalan terbaik untuk menuntaskan semuanya, Anna. Istighfar!
Bunuh diri itu dosa besar yang tidak akan diampuni Allah, Anna!”
Anna masih terdiam. Pikirannya berkecamuk, bahkan ia
sendiri tidak bisa memilah apa-apa saja yang bergemuruh di kepalanya saat ini.
Tapi ada satu hal yang melekat erat di otak Anna sampai saat ini, satu hal yang
membuat gadis itu nyaris membuat dirinya terjerumus dalam dosa besar.
Detik itu Anna kembali menumpahkan air matanya, kali ini
bersama seluruh beban yang selama ini menghimpit dadanya. “Anna tidak bisa lagi
hidup sendiri tanpa Mama. Anna tidak tahu untuk apa dan siapa Anna hidup
setelah Mama pergi. Lebih dari semua itu, Anna hancur, Tante.” Tante Dina membiarkan
keponakannya meraung-raung di dekapannya selama beberapa saat.
“Kita semua tidak pernah sendiri di dunia ini, Anna. Innallaaha ma’ana. Allah selalu bersama
kita. Kita memang lemah. Lemah di hadapan-Nya. Tapi Yang Mahabesar selalu
menguatkan hamba-hambanya yang bertakwa.”
Anna tercekat. Suara Tante Dina begitu lirih bagaikan
hembusan angin. Namun Anna bisa mendengarnya. Dan untuk pertama kalinya ia
merasakan segenap hatinya damai. Damai karena Tante Dina. Damai karena ia tahu,
meskipun tanpa Mama, ia akan selalu kuat selama bersama Allah ta’ala.
Laa tahinu
qawilillaahi ta’ala. Laa tahzanu innallaaha ma’ana.
Peringkat 2 : "Remember" oleh Syavana Levaretna Arsy
Remember
”Dan
bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi
dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya…”
QS.
Al-Kahfi : 28
~
Ayunan
kuning yang berderit.
Perosotan
yang basah.
Jungkat-jungkit
yang berbunyi karena terkena air hujan.
Aku
berdiri di sana, memperhatikan bagaimana air hujan jatuh membasahi rerumputan
dan dedaunan yang jatuh, sebelum meresap masuk ke tanah. Aku memperhatikan
betapa cepatnya awan kelabu bergerak tertiup angin. Aku memperhatikan bagaimana
burung terbang dengan sayap-sayap mereka, semakin jauh ke langit. Aku
memperhatikan bagaimana bulu burung itu jatuh sesaat setelah mereka terbang –
meliuk-liuk, berputar, tertiup angin, lalu mendarat di tanah.
Aku
memperhatikan hampir segalanya. Setiap detail dari sebuah kejadian – aku
mengingat semuanya.
Aku
ingat bagaimana ayah memukul ibu saat ia sedang mabuk. Aku ingat bagaimana
besarnya emosi ayah. Kemarahan, kebencian, putus asa. Beliau menarik ibu ke
ruang tengah, sedang aku di dorongnya masuk ke kamarku, membiarkanku mendengar
semua jeritan ampun ibu, suara barang pecah, suara amuk ayah, teriakan ibu yang
melengking hingga aku berdoa kepada Allah untuk memohon agar Ia menghukum
ayahku.
Sebutlah
aku anak durhaka, tetapi kalau kau berada di posisiku, terkunci dan tidak bisa
melakukan apa-apa, kau pasti akan melakukan hal yang sama.
Senyuman
pahit timbul di wajahku semakin aku mengingat semua kejadian itu.
“Ya Allah hukum ayahku!”
Ibu
tidak pantas mendapat semua hal itu. Ibu tidak pantas mendapat semua hal yang
ayah lakukan.
Tiba-tiba
pintu kamarku terbuka. Ayah masuk membawa sebuah botol dengan terhuyung-huyung.
Beliau melihatku, lalu wajahnya yang semula tampak lelah kemudian kembali
memperlihatkan amarah dan kebenciannya. Ia kemudian memukul kepalaku dengan
botolnya hingga botol itu pecah. Darah segera mengalir dari pelipisku, membuat
mata kananku terpejam.
Lari
adalah satu-satunya jalan untukku agar tidak terkena pukul lagi. Namun setelah
aku berlari keluar kamar, aku mendapati tubuh ibu yang tersungkur di lantai.
Beliau sudah tidak bernyawa.
Aku
ingat betapa besarnya keinginanku untuk mati pada saat itu.
“Nuka?”
Lamunanku
terpecah. Mataku kemudian terfokus kepada seorang perempuan yang berdiri tak
jauh di belakangku. Kerlingnya memancarkan kesedihan saat kami bertatapan.
~
Aku
ingat saat mama mengantarku ke rumah sakit. Dokter menyapaku dengan ramah lalu
menyuruhku berbaring di sebuah kasur untuk diperiksa. Beliau tampak memeriksa
keadaanku dengan stetoskop, menyuruhku menjulurkan lidah, lalu menyorotkan
senter kecil ke kedua mataku. Dahinya mengernyit sesaat, lalu beliau
menanyakanku apakah aku sering merasa sakit kepala.
Sakit
kepala adalah hal biasa untukku, namun rasanya luar biasa. Ketika datang,
rasanya kepalaku ingin pecah sehingga aku sering membenturkan kepalaku ke
dinding perlahan-lahan. Tapi aku tidak cerita itu ke dokter dan ke ibu. Aku
tidak ingin membuat mama khawatir dengan kesehatanku.
Seminggu
kemudian, aku kembali mendatangi dokter itu, namun kali ini aku bersama papa.
Rasa sakit kepalaku semakin parah dan lebih sering. Beberapa kali aku pingsan
di rumah, atau muntah sehingga aku tidak bertenaga karena semua makanan
kukeluarkan kembali.
Dokter
kembali memeriksaku, namun beliau memeriksa mataku sedikit lebih lama. Wajah
dokter terlihat agak serius setelah aku selesai diperiksa. Ia berbincang
sesuatu dengan papa, kelihatannya sesuatu yang sangat penting. Tak lama, papa
memanggilku, menyuruhku untuk duduk di sampingnya, dan memintaku untuk tetap
tenang dengan apa yang akan beliau katakan.
Aku
hanya terdiam sambil mencerna informasi yang baru saja kuperoleh. Papa dan
dokter memandangku dengan sedih, tapi aku membalas mereka dengan senyum.
‘Oh, pantas saja kepalaku sangat sakit,’ pikirku dalam hati setelah mendengar
berita itu. ‘Ada tumor di kepalaku.’
Setelah
itu aku tidak ingat apa-apa lagi, tapi saat aku membuka mata, sudah ada selang
infus menempel di lengan kiriku. Lalu ada mama di sampingku; matanya merah dan
bengkak. Mama kenapa? Mama kenapa menangis?
“Lisa,” panggilnya, mengembalikan pikiranku
yang semula tanpa sengaja masuk kembali ke ingatan-ingatan masa lalu. “Ada
apa?” tanya Nuka.
Aku
tersenyum melihat tatapannya yang penuh pertanyaan. “Jangan melamun,” jawabku
lalu duduk di kursi kecil di bawah sebuah pohon yang rindang.
Nuka
menghampiriku dan duduk tak jauh dariku. “Kamu juga jangan melamun,” balasnya,
matanya menatap ke awan kelabu yang sedari tadi tidak berhenti bergerak.
“Lagipula, apa kamu boleh jalan-jalan seperti ini?” Nuka bertanya tanpa mengalihkan
pandangannya dari langit.
“Tidak
apa-apa kok,” aku tertawa kecil sambil bersandar pada kursi, lalu ikut
memperhatikan awan-awan di langit.
“Tapi
besok–”
“Operasi
pengangkatan tumor,” potongku, “Aku ingat itu, Nuka, aku tidak akan lupa kalau
besok adalah hari besar.”
Angin
bertiup perlahan, membuat ayunan kuning di ujung bergerak-gerak dan berderit
kecil. Hujan perlahan reda, meninggalkan hanya gerimis halus di angkasa. Aku
menghela nafas sambil memperhatikan cahaya matahari yang berusaha menerobos
masuk melalui celah-celah awan tebal itu.
“Nuka?”
“Ya?”
“Dokter
berkata kalau akan ada kemungkinan hilang ingatan setelah operasi selesai, itu
jika operasi itu berhasil,” ujarku. “Jadi aku ingin berterima kasih karena kamu
sudah menjadi teman senasibku.”
Dia
tertawa tepat setelah mendengar kata ‘senasib’ yang kuucapkan. “Aku juga mau
berterima kasih karena sudah membantuku untuk bisa mengikuti operasi besok.
Kalau kita saling lupa, kita bisa kenalan lagi, kan?”
Aku
mengangguk. “Ya, tentu. Tapi aku masih tidak percaya kamu dapat tumor karena
dipukul botol,” ujarku.
“Apapun
bisa terjadi kalau Allah mengizinkan,” jawabnya. “Selama kita terus sabar dan
tetap berdoa kepada Allah, aku yakin kita bisa melewati ujian-ujian-Nya.”
Aku
mengangguk setuju. Sebuah senyum terkembang di wajahku, lalu aku menatap Nuka.
“Allah mencintai hamba-Nya yang kuat, apa menurutmu kita sudah termasuk
golongan itu?” tanyaku.
“Tentu
saja, kita sudah melewati banyak hal. Mungkin tidak sekuat yang kita bayangkan,
namun aku tahu kalau kita bukan pribadi yang lemah.”
Kami
tersenyum dan tertawa, lalu kembali melihat ke langit. Banyak hal yang sudah
terjadi kepadaku dan Nuka di masa lalu. Manis atau pahit, kami sama-sama
menelannya. Karena kami tahu selalu ada harapan di setiap rintangan.
“Lisa?”
“Ya?”
“Semoga
kita masih bisa mengingat satu sama lain ya.”
“Amin.”
Peringkat 1 : "Di Ujung Selat Karimata" oleh Ika Madina.
Di
Ujung Selat Karimata
Aku pernah
melihat sosok malaikat, tapi rupanya jauh dari bayangan, jauh dari kisah-kisah
epik dalam kelas yang sebenarnya hanya santri duduk melingkar di bawah saung
jerami, berceloteh hingga gelap hinggap, biru turun tahta dari angkasa, merah
dan hitam berkuasa. Purnama siap-siap mengintip.
Aku pernah
melihat malaikat. Dia tidak bersayap, tidak bergelimang cahaya seperti mentari,
tidak gemilau seperti bintang-bintang hitam putih televisi. Dia hanya berjilbab
keruh yang ujung-ujungnya menguning, kulitnya gelap, dan aku yakin dia bahkan
tidak mengerti cara menyalakan televisi. Tapi jika tersenyum maka sejagat kalah
cantiknya. Ketika bibirnya terangkat melengkung ke atas, maka di saat itulah
ombak menggulung kemudian bertolak, di saat itulah malam jinjit dan pergi
mengendap, mengejar mas senja di ujung Selat Karimata. Di saat itulah kicau
burung berubah mendayu, sepintas seperti lagu merayu. Di saat itulah jilbab
hijau-kuning dan dua bola mata hitam kaca dan pundaknya yang tegap saking
mahirnya menggenggam obor dan mengokang tuas harpun mendadak disihir menjadi
malaikat, padahal waktu bukan jam dua belas, padahal dia bukan Cinderella. Aku gemetar, kemudian
merapal istighfar, karena bagaimana bisa
manusia secantik ini menambat tali dan menikam punggung hiu dalam kesehariannya?
Ketika kami
bertemu, aku adalah manusia galau yang paling bahagia di dunia dan dia adalah
orang tersenyum yang paling sedih di jagat raya. Aku menyeret kakiku di tengah
dalamnya pasir putih, sandalku ditelan lahap-lahap. Saat itu dia sedang termenung
duduk di pinggir perahu, kakinya bertengger dalam lubang palka.
“Jangan diangkat!
Seret saja!” Suaranya agak berteriak, miris melihat keadaanku.
Ketika aku
sampai di sisinya, ia tahu maksud kedatanganku disini bukan hanya sekedar
menonton wajah-wajah nelayan atau kafilah bocah-bocah ingusan bermain di
buritan. Tak salah juga. Aku berpakaian jaket lusuh dengan buku catatan di saku
dan kamera digital rongsokan
dikalungi, diikat tali sepatu lama yang menciut seiring waktu. Gambaran apa
yang kau dapat?
“Pulang, a’,
tidak ada yang bisa kau liput disini. Ke kiri, anak-anak main di buritan. Ke
kanan, a’a lihat lebih banyak biru. Biru, biru laut. Gulung ombaknya
tarik-menarik. Deburnya timbul tenggelam.”
Aku mendengar si
gadis bercerita, padahal aku bahkan tidak tahu menahu ia bicara dengan siapa.
Matanya pada laut, bukan padaku.
Ceritanya tidak
kalah seru. Dari hilir mudik orang-orang pangkalan, mulai dari ngkoh-ngkoh Tionghoa sampai ke
bapak-bapak Melayu yang kerjanya memaki-maki pemerintah. Kalau sedikit lebih
siang maka terkadang tampil juga penjaja kue baskom, pedagang bumbu dapur,
pedagang ikan yang baunya merebak ikan pari. Hanya dibutuhkan setengah jam
mengayuh sepeda dari pangkalan ini ke sebuah pasar, dan wajar wajah-wajah
senyum miris para pedagang kaki dua untuk tampak sehari-hari. Kalau mereka
tersenyum, terlihat dua sampai lima lubang ompong.
Tapi aku kesini
bukan untuk membuat riset soal komunitas pangkalan. Bukannya dibayar dengan
sebungkus nasi padang dan kopi dua sendok gula, tapi dibayar dengan segenap
tinju. Aku sudah terlalu membenci hidupku untuk dibogem sampai biru.
Aku ingin
menulis tentang figur yang aku percaya paling pantas untuk diulas di kampung
kecil kita ini. Aku ingin dunia tahu akan Zahinah
binti Zahir, wanita paling tangguh yang pernah aku empat mata bertemu.
“A’a salah kalau
mau mencari buat diwawancara,” jawabnya, masih asik memandang biru laut, “saya
terlalu sederhana untuk tulisan. Sekarang lebih baik a’a pulang, kemudian
datang lagi bukan ke saya. Coba ke Pak RT! Dia orang pintar, saya bahkan huruf
yang berbentuk bunder dan yang
bentuknya lurus tidak bisa membedakan cara bacanya.”
Besoknya, aku
datang lagi. Kepadanya. Bukan Pak RT. Karena Pak RT bukan Zahinah binti Zahir, yang umurnya lebih muda dariku, yang berlayar
seperti gadis lainnya menyiapkan acar, yang melintasi lor-lor garang bersama
perahu sederhananya seperti gadis seumurannya memasak nasi. Zahinah tinggal
sebatang kara, ayahnya menutup mata ditelan bulat-bulat oleh biru laut. Mungkin
kalau aku Zahinah, aku akan membenci hidupku lebih aku membenci hidupku
sekarang.
“A’a ada apa
kesini lagi? Rumahnya Pak RT selatan-utara dengan di sini, a’.”
“Bawa aku
berlayar,”
Zahinah terlihat
setengah terperanjat, setengah berkesimpulan aku gila. Sebenarnya benar juga.
Aku agak mabuk laut.
“Ya… ya,”
Aku ingin
menjadi saksi akan ketangguhan Zahinah binti Zahir. Aku ingin melihatnya
menantang pusaran dahsyat, membanting Laut Cina Selatan, merasakan perahu
bergoyang halus sembari Zahinah berseteru dengan materi yang menyita ayahnya
darinya, merasakan perahu bergemetar, mengecap takut dan suspensi dalam satu
rasa. Aku ingin mencintai hidupku yang bosan dan suntuk. Aku ingin belajar dari
Zahinah.
Esoknya, pagi
buta, kami bertolak ke arah barat laut. Belum-belum, perahu terlontar dihisap
tiba-tiba oleh pusaran, hasil Laut Jawa reuni akbar bersama Laut Cina Selatan.
Papan-papan bergemelutuk. Otak berkata untuk menyelamatkan diri. Hati berkata
untuk menyebut-nyebut Allah SWT. Refleksku menggenggam catatan saku dan bolpoin
seribu rupiah. Aku melakukan ketiga-tiganya sekaligus.
Perahu
melepaskan diri dengan meluncur perlahan melawan arus pelan-pelan tapi pasti.
Ketika kami lolos dengan nyawa dikandung raga, aku langsung mengosongkan isi
lambung. Zahinah menahan tawa melihat wajahku yang pucat. Ketika aku
memuntahkan seluruh isi dan posisiku membuat catatan saku jatuh ke biru, biru
laut, Zahinah akhirnya tertawa lepas.
“Aku kesini
ingin berburu hiu gergaji.”
“Kau gila,”
adalah jawabku.
“Usah kau lara
sendiri, a’a. Mereka sedang berenang menuju Kuala Trenggano. Kita butuh uang.
Uang bisa untuk beli kue mangkok…”
Yang kami
lakukan adalah menghadang sebuah barisan ikan hiu gergaji. Bergegas aku kokang
tuas harpun, bersiap membidik hiu. Makin gentar aku melihat ukurannya yang
mengalahkan perahu sederhana kami.
“Tembak, a’!”
Sebelum aku bisa
menginjak pegas tuas, aku terpelanting seiring bayang kelabu di dalam air
menabrak kencang perahu. Aku hilang keseimbangan, nyaris tertujam ke laut
sebelum Zahinah menarik kerah bajuku, melemparkan aku kembali ke perahu. Aku
tersungkur tersuruk-suruk sambil menyaksikan Zahinah mengerahkan tempuling,
menikam sukses ikan hiu. Melihatnya, aku bangkit, meraih tali tempuling.
Zahinah sempat terlihat kaget, dan untuk kali ini, ia menoleh padaku. Aku empat
mata dengan gadis sebatangkara paling kuat di dunia.
“Zahinah binti
Zahir, bagaimana bisa seseorang sepertimu terlihat begitu menikmati hidup?!”
Bagaimana orang yang telah dirampas segala yang ia miliki bisa begitu kuat?
Begitu tegar?
Dan kali ini
Zahinah tersenyum, dan dari dalam diriku meletup sebuah perasaan. Perasaan yang
tidak mampu aku jelaskan.
Dijawab oleh
Zahinah binti Zahir, “Laa Tahinu,
Qawilillahi ta’ala! (Jangan lemah, kuat karena Allah!)”
CERPEN PILIHAN JURI (pantas dipublikasikan bersama tiga cerpen pemenang) :
"Ketika Jilbab Menyapa" oleh Rania Aisyah.
Ketika
Jilbab Menyapa
Indah
kurasakan, hidup di Indonesia ini. Orang-orang selalu menjunjung Bhinneka
Tunggal Ika. Memang iya, semua masyarakatnya hidup membaur penuh rasa damai.
Kami berinteraksi tanpa mempermasalahkan apa keyakinan kami. Ah, iya, aku Wafa,
Wafa Ramadhani. Yang daritadi aku gumamkan memanglah apa kata hatiku saat ini.
Aku dan temanku, Aliya adalah siswi-siswi lulusan pondok pesantren setingkat SD
dan SMP di Purwakarta yang memutuskan untuk melanjutkan pendidikan ke SMA
Negeri karena menurut orang tua kami SNMPTN melalui SMA Negeri jauh lebih mudah
didapat. Inshaa Allah cita-citaku ingin menjadi dokter yang sukses membantu
orang-orang di sekitarku. Awalnya, aku sempat berpikir, setelah aku 8 tahun
tinggal di pondok pesantren lalu aku kembali ke lingkungan heterogen aku akan
diasingkan karena mungkin aku akan menghadapi beberapa perbedaan pendapat,
terutama masalah penampilan. Tapi nyatanya, tak pernah kudengar sedikit pun
cibiran karena aku memakai jilbab. Aku dan Aliya bisa bermain dengan
teman-teman sebaya yang tidak memakai jilbab tanpa ada diskriminasi.
Tiba
saatnya masa pendaftaran sekolah. Dengan bekal nilai akademis yang cukup
tinggi, aku dan Aliya memberanikan diri mencantumkan nama di sebuah sekolah
bergengsi di Purwakarta yang terkenal dengan prestasi akademisnya. Sungguh
senang hatiku melihat calon-calon siswi muslimah yang juga kebanyakan memakai
jilbab. “Akhirnya aku temukan lagi zona jilbab,” pikirku. “Fa, kenapa ya
guru-guru di sini kok tidak ada yang memakai jilbab? Bukankah sekolah ini
sekolah umum sehingga guru-guru muslimah juga bisa mengajar di sini?” celetuk
Aliya. Aku diam sejenak, tersadar juga atas pertanyaan Aliya. “Allahu’alam bissowab, semoga Allah
segera memberikan hidayah untuk berjilbab jika ada muslimah di sana, Al,”.
5
Juli 1994, nama-nama siswa dan siswi yang diterima diumumkan. Sekolah tampak
ramai dan bising sekali. Tampak akhwat dan
ikhwan berbaur tanpa sekat. Aku dan
Aliya menunggu di masjid sambil menunggu keramaian mereda. Setelah agak sepi,
kami menghampiri papan pengumuman dan mencari nama kami. Alhamdulillah, kami berdua diterima
dan dengan urutan peringkat yang cukup memuaskan. Lusa akan ada rapat bagi
orang tua siswa dan siswi yang diterima, jelas di papan pengumuman. Kami berdua
pulang ke rumah dengan sumringah mengabarkan orang tua kami. Aku juga bercerita
bahwa aku menemukan kembali zona berjilbab, ummi pun ikut gembira.
Lusa
itu pun akhirnya datang. Ummiku dan ummi Aliya berangkat bersama menuju sekolah
untuk datang mendengarkan rapat mengenai aturan-aturan yang akan diberlakukan
selama kami menuntut ilmu di sana, sedangkan aku dan Aliya mengaji bersama di
Masjid Al-Furqoon dekat rumah kami. Sekitar hari siang bolong ummi sampai di
rumah. Entah kenapa, raut wajahnya bak memanggul beban pikiran yang berat.
T’lah habislah makan siangnya, ummi akhirnya buka bicara. Aku menelaah
dalam-dalam tatapan matanya, hendak membicarakan sesuatu yang serius. “Wafa, ummi
harap kamu terus dapat mempertahankan jilbabmu ya, nak...”, sontak aku pun
kaget “Inshaa Allah jika Allah memerintahkan apapun yang terbaik untuk manusia,
Wafa akan menjalankannnya dengan ikhlas, Mi,” “Jadi sebenarnya ada apa ‘sih, Mi?” “Hasil rapat tadi salah
satunya adalah larangan mengenakan jilbab selama berada di lingkungan sekolah,
Ummi sungguh tak tahu apa yang harus kita lakukan, nak...”, jelas Ummi. “Lho?!
Kenapa bisa begitu, Mi? Bukannya sekolah itu adalah sekolah umum ya? Pantasnya
mereka menghormati perintah-perintah masing-masing agama dong!” “Justru itu, Nak. Dikarenakan sekolah umum maka pihak
sekolah melarang penggunaan simbol-simbol keagamaan supaya menghindari
diskriminasi agama. Dan apabila siswi tidak terima maka pihak sekolah dengan
senang hati akan membiarkan siswi belajar tanpa pengajar, tanpa ruang kelas,
tanpa fasilitas, bahkan tak segan mengeluarkan siswi tersebut,” makin terhempas
saja hatiku mendengarnya, “Sungguh tidak dapat ditolerir, Wafa ingin pindah
sekolah sajalah, Mi. Wafa akan pergi mencabut berkas,” “Tidak bisa, Nak.
Mengurus data-data pindah sekolah akan jauh lebih rumit. Satu-satunya jalan
yang terpikir oleh ummi adalah perkataanmu yang tadi kau ucapkan,” jawab ummi.
“Ucapanku yang mana, Mi? Aku tidak mengerti maksud Ummi,” tanyaku, “Inshaa Allah jika Allah memerintahkan apapun
yang terbaik untuk manusia, Wafa akan menjalankannnya dengan ikhlas,”
“Percayalah, Nak. Ini adalah jalan terbaik Allah untukmu.. Laa Tahinu, Qawlillahi Ta’ala,” aku diam, tanpa ada sepatah kata
pun keluar dari mulutku, kuberikan senyumku untuk membalas senyuman ummi yang
terasa sejuk.
Sehabis
aku sholat Maghrib, aku duduk berlutut dan mengadukan semua masalahku kepada
Allah Al-Malik, tak terasa air mataku bercerai berai. “Bagaimana bisa aku akan
bertahan 3 tahun tanpa ada teman, kelas, bahkan pengajar? Bagaimana jalanku menuju cita-cita yang
sangat kuimpikan?” pertanyaan semacam itu selalu muncul dalam pikiranku.
Tetapi, yang selalu kuingat adalah Laa
Tahinu, Qawlillahi Ta’ala, Jangan lemah kuat karena Allah....
Singkat
cerita, aku dan Aliya mulai memasuki tahun ajaran baru, yaitu hari pertama kami
bersekolah di situ. Semua orang yang kami lewati, aku merasa seperti mereka
membincarakanku. Mungkin karena kami aneh, tetap mengenakan jilbab ke sekolah.
Hari pertama itu kami langsung dipanggil oleh pihak kesiswaan, dia berkata
bahwa jika esok hari kami masih memakai jilbab maka tak segan untuk membiarkan
kami belajar tanpa arah. Keberanianku tak sebegitu cepat mundur. Esok hari aku
dan Aliya tetap memakai jilbab putih bersih dan panjang. Dan lagi, pulang
sekolah kami berdua dibawa ke ruang kesiswaan. Sekali lagi dia memperingatkan
bahwa kami akan tidak dianggap sebagai siswa sekolah tersebut. Dengan penuh
rasa kecewa aku dan Aliya pulang. Tapi
kata itu sangat mempengaruhi isi otakku. Aura-aura motivasi selalu saja
bertambah sangat kuingat kata-kata itu.
Seiring
berjalannya hari, benarlah adanya ancaman itu. Aku dan Aliya belajar di
laboratorium kimia, letaknya di pinggir gedung sekolah bak terisolasi, tanpa
ada guru, meraba-raba jalan keluar sendiri istilahnya. Terdiskriminasi oleh
teman-teman yang memandang kami ‘wanita berjilbab’. Sungguh, hari-hari yang
kami lalui sangatlah berat. Subhanallah, Allah masih memberiku kekuatan untuk
tetap berdiri tegak di jalan-Nya. Satu semester t’lah berlalu. Masih untung ada
raport untuk aku dan Aliya. Dan kabar sedihnya lagi, Aliya tidak akan
meneruskan bersekolah di situ lagi. Dia memutuskan untuk belajar di pondok
pesantren saja. Tinggallah aku sendiri.
Tahun
1997, Alhmdulillah aku mencapai hasil puncak yaitu kelulusan. Aku dinobatkan
sebagai murid terbaik karena nilai nemku yang hampir sempurna yaitu 39,75. Tapi
aku menganggapnya sebagai anugerah atas perjuanganku mempertahankan jilbab di
tengah masyarakat sekuler. Selepas cerita keberhasilanku, sekolah itu akhirnya
memperbolehkan pemakaian jilbab untuk muslimah. Aku merasa bangga mewariskan
jalan terbaik untuk para muslimah mendatang. Sungguh, Allah niscaya akan
memberikan jalan bagi siapapun hamba-Nya yang ikhlas berjuang di jalan-Nya, Laa Tahinu, Qawlillahi Ta’ala.
"Tentang Sebuah Sapu Tangan Biru" oleh Frisca Silmy Elfiona.
Tentang Sebuah Sapu Tangan Biru
Satu detik,
dua detik, tiga detik. Entah sudah berapa detik yang telah ia hitung dalam hati.
Begitu banyaknya, hingga ia lupa angka terakhir yang ia ucapkan, dan terpaksa
menghitung ulang dari satu. Apakah ia akan siap? Apakah masa depannya nanti
cerah? Pertanyaan semacam itu selalu terbesit ditengah hitungannya. Matanya
mulai memanas dan buram. Tetes air mata pertama jatuh. Cepat-cepat ia mengusap matanya
menggunakan punggung tangannya, namun gerakannya terhenti saat sebuah sapu
tangan biru terulur dihadapannya.
Seorang gadis, entah kapan dan
bagaimana, telah duduk disampingnya, menyodorkan sehelai sapu tangan. Diraihnya
sapu tangan biru itu, sekuat tenaga berusaha untuk tersenyum. Dia baru saja
hendak mengucapkan terima kasih, saat gadis itu, seolah sudah lama saling
mengenal, berkata, “Berhentilah berhitung. Walau ribuan kali pun, bukan tenang,
malah lelah yang kau dapat. Ucapkanlah, subhanallah, walhamdulillah, wa laa ilaaha illallah,
wallahu-akbar sebanyak 25 kali, lalu ceritakan kepadaku apa yang kau
rasakan besok. Disini.” Setelah gadis itu pergi, ia mengikuti saran gadis itu.
Sekali, dua kali, tiga kali, hatinya mulai hangat. Dua puluh tiga kali, dua
puluh empat kali, dan dia pun jatuh tertidur dalam perasaan yang belum pernah
ia rasakan sebelumnya.
Pukul tujuh pagi ia terbangun dengan
tangan yang masih menggenggam sapu tangan biru. Agak tergesa dibukanya pintu
bertuliskan angka 103. Pandangannya langsung tertuju pada oscilloscope
disebelah kanan ranjang dengan seorang pria terbaring tak sadarkan diri
diatasnya. Nafas lega berhembus keluar dari hidungnya melihat grafik turun-naik pada oscilloscope
yang terhubung dengan tubuh pria itu. Tubuh ayahnya.
Saat ia membuka pintu, hendak membeli makanan, gadis yang kemarin
memberikan sapu tangan biru kepadanya sudah duduk dikursi tunggu, tersenyum
padanya. Ia balas tersenyum. Kemudian bersama-sama, mereka menuju ke kafetaria
dilantai satu.
Tiga langkah sebelum sampai di
kafetaria, diulurkannya sapu tangan itu sambil mengucapkan terima kasih. Suara
dalam otaknya berkata bahwa sepertinya, ia dan gadis ini akan bersahabat. Dan suara pada otaknya benar, sapu tangan itu
seolah menjadi simbol dimulainya persahabatan mereka.
Seminggu sudah ayahnya tak sadarkan
diri di rumah sakit, berarti seminggu sudah ia mengenal gadis itu. Saling
bertukar cerita, dia menceritakan sahabatnya tentang ayahnya. Bagaimana
beberapa jam sebelum ayahnya tak sadarkan diri, semuanya seolah sempurna. Saat
tiba-tiba ayahnya mengeluh sulit bernafas. Tentang ucapan dokter bahwa ia harus
siap, bahwa mereka sudah melakukan yang terbaik, bahwa usia ayahnya hanya
tinggal menghitung hari. Dan gadis itu bercerita tentang penyakitnya. Diagnosis
dokter, tangisan kedua orangtuanya. Dan bagaimana ia percaya bahwa hidup dan
mati sepenuhnya berada ditangan Allah ta’ala, bukan dokter. Hari ini pun,
mereka bertemu dan ia berencana mengajak sahabatnya melihat ayahnya. Dan betapa
remuk hatinya mendapati ayahnya kejang, dengan selang oksigen yang sudah
berpindah dari hidung ke mulutnya,
Lima belas menit kemudian ayahnya
pergi. Seluruh badannya kebas, namun tak setetes pun air mata jatuh dari
matanya. Air matanya baru tumpah saat ia melihat derai tangis ibunya.
Sahabatnya merangkulnya dan berkata, “Ucapkanlah, Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, Allahumma ajirni fi musibati wa
akhlif li khairan minha.” Seperti saat pertama mereka bertemu, ia mengikuti
ucapan sahabatnya. Dan seperti saat pertama mereka bertemu, perasaannya menjadi
lebih baik.
Sambil menggenggam tangannya, sahabatnya
berkata, “Menangislah jika itu membuatmu tenang. Tetapi janganlah berlebihan, karena
sesungguhnya mayit itu disiksa karena tangisan keluarganya. La Tahzan Wa Laa Tahinu, Qawi Lillahi ta’ala. Jangan bersedih dan janganlah lemah,
kuatlah karena Allah. Aku yakin Allah punya rencana dibalik cobaan ini, dan aku
yakin, kau mampu menghadapi ujian ini. Jadikanlah musibah ini sebagai pelajaran
dan pecut untuk berubah menjadi manusia yang lebih baik. Percayalah, musibahku juga
tak kalah berat dari musibahmu. Mari bersama-sama kita menuju surganya dengan
menjadi kuat karenanya.”
Rasa penasarannya terhadap makna
kalimat, “Kuat karena Allah” dan rasa kekagumannya terhadap sahabatnya, menggerakan
bibirnya mengutarkan langsung apa yang tersirat diotaknya sedetik sebelumnya, “Aku
ingin memperdalam agamaku. Aku ingin menjadi muslimah yang sesungguhnya
sepertimu.” Dan untuk pertama kalinya, ia melihat gadis itu tersenyum lebar.
Enam bulan berlalu sejak hari itu, dan
perlahan tapi pasti, arah hidupnya berbalik menuju jalan yang lurus, jalan
Allah ta’ala. Dari yang sebelumnya sering melalaikan sholat, jarang menyentuh
Al-Quran, dan tidak pernah mengenakan jilbab serta menutup aurat, menjadi sebaliknya.
Bahkan sekarang sunnah rasul seperti sholat malam dan puasa senin kamis sudah
mulai dijalankannya. Baginya, kepergian mendadak ayahnya adalah bukti nyata
akan keberadaan Allah ta’ala. Peringatan bahwa kita harus selalu siap
menghadapnya, dan bahwa semua yang hidup pasti akan merasakan mati. Dalam
doa’nya, tak lupa ia selipkan nama sahabatnya yang telah menuntunnya menuju jalan
kebaikan. Yang membuatnya paham akan makna dari kalimat “Kuatlah karena Allah.”
Malam
itu, ia sedang menulis cerita pertemuan pertama dengan sahabatnya pada sebuah
diary, ketika telepon berdering dari seseorang yang mengabarkan bahwa
sahabatnya harus menjalani operasi pengangkatan sel kanker pada impuls otaknya.
Secepat kilat ia menuju ke rumah sakit. Air mata berlinang dimatanya sepanjang
perjalanan, namun ia yakin, sahabatnya tidak akan mengecewakannya. Maha
pengasih Allah telah mengabulkan doanya. Operasinya berhasil dan sahabatnya itu
siuman seminggu kemudian. Secepat kilat ia menuju rumah sakit dengan berlilnang
air mata. Kini, air mata bahagia. Macetnya Jakarta membuatnya memilih jalan
kecil yang hanya cukup untuk satu mobil. Namun malang tak dapat ditolak, untung
tak dapat diraih. Sebuah mobil pick-up dari arah berlawanan menerjang mobilnya.
Terdengar suara pecahan kaca dimana-mana, kemudian ia merasa kedua kakinya
terbakar, sebelum akhirnya ia tak sadarkan diri.
Matanya terbuka. Seluruh badannya nyeri,
ubun-ubunnya perih, dan ke-dua kakinya tidak bisa digerakkan. Ia yakin tak lama
lagi matanya akan tertutup kembali. Didapatinya sahabatnya tengah menggenggam
tangannya. Ada berjuta hal yang ingin diucapkannya kepada sahabatnya. Ada
berjuta kata perpisahan diujung lidahnya. Matanya buram, dan dejavu terasa saat sahabatnya membasuh
air matanya dengan sapu tangan biru. Akhirnya dengan sisa tenaganya, ia
berkata, “Lucu sekali takdir Allah, bukan? Saat orang mendengar kisah kita,
mereka tentu berfikir kau yang pergi duluan.” Tawa kecil ia paksa keluar dari
mulutnya. “Sekarang aku mengerti makna dari kuat karena Allah. Terima kasih.
Terima kasih. La Tahzan Wa Laa Tahinu,
Qawi Lillahi ta’ala , sahabatku.” Lalu sambil menggenggam sapu tangan biru ia
memejamkan kedua matanya. Selamanya.
0 comments:
Posting Komentar