Karena hari ini sedang pemilu, kami berniat menyampaikan sedikit materi mengenai kepemimpinan atau khilafah. Untuk kita semua, para khalifah yang diutus-Nya di muka bumi, semoga bisa menjadi rujukan yang bermanfaat :)
Kita mulai dari khilafah. Khilafah yaitu kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah. Kata lain dari khilafah yaitu Imamah. Banyak hadits shahih yang menunjukkan bahwa kedua kata tersebut memiliki konotasi yang sama.
Menjalankan khilafah hukumnya fardhu'ain bagi seluruh kaum muslimin. Apabila melalaikannya, maka adalah suatu perbuatan maksiat terbesar dan Allah akan menurunkan azab-Nya.
Menurut perspektif Islam, sistem pemerintahan dan sistem yang lainnya tidak dirancang oleh manusia, tetapi oleh Allah SWT. Sistem pemerintahan dalam Islam yaitu berbentuk kesatuan, yang kemudian kekuasaan itu diserahkan kepada satu orang, yaitu Khalifah.
“dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kamu dari sebahagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu. Jika mereka berpaling (dari hukum yang telah diturunkan Allah), maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah menghendaki akan menimpakan mushibah kepada mereka disebabkan sebahagian dosa-dosa mereka. Dan sesungguhnya kebanyakan manusia adalah orang-orang yang fasik.” (Q.S. Al-Maidah/5:49)
Selanjutnya, untuk contoh pemimpin yang baik, kira-kira yang seperti siapa sih?
Kalian mengenal Al-Fatih? Sang Penakluk Konstantinopel? Yuk, kita ulas sedikit mengenai beliau :)
Muhammad II bin Sultan Murad II (biasa dikenal Muhammad Al-Fatih) dilahirkan di istana Sultan yang terletak di ibukota Daulah Utsmaniyah, Adarnah, pada pagi hari tanggal 30 Maret 1432 M. Pada masa kanak-kanaknya, ayahnya menyiapkan beberapa guru khusus untuknya. Namun, mereka semua gagal mengajari Al-Fatih kecil karena beliau adalah seorang anak yang bandel dan tidak mau tunduk pada perintah mereka. Akhirnya, ayahnya memanggil seorang ulama, Maula Ahmad bin Islmail Al-Kurani. Sang ulama memberinya sebuah cambuk untuk memukul Al-Fatih jika ia bandel. Kepadanya sang ulama berkata, "Ayahmu mengutusku untuk mengajar dan memukulmu jika engkau melanggar perintahku".
Al-Fatih hanya tertawa. Syekh Al-Kurani pun memukul di majelis itu dengan pukulan yang keras hingga Al-Fatih ketakutan. Sejak saat itulah, akhirnya ia berubah. Beliau berhasil mengkhatamkan Al-Quran sebelum mencapai 8 tahun. Kecerdasannya semakin tampak dan keunggulannya semakin menonjol. Beliau menguasai bahasa Turki, Persia, dan Arab. Pada masa remajanya, ia mempelajari bahasa Yunani, Serbia, Italia, dan Latin.
Selain itu, yang menjadi pengajar Al-Fatih adalah Muhammad bin Hamzah Ad-Dimasyqi Ar-rumi, (Syekh Aaq Syamsuddin), sang penakluk spiritual Konstantinopel. Syekh Aaq Syamsuddin berhasil meyakinkan Al-Fatih tentang hadits Nabi : "Sungguh Konstantinopel itu akan ditaklukkan. Maka sungguh panglima (penakluk) itu adalah sebaik-baik pemimpin, dan sungguh pasukan itu adalah pasukan terbaik."
Sultan Muhammad dan Syekh tersebut sering berjalan menyusuri tepian pantai dan menunjuk ke arah Konstantinopel. Syekh itu terus mengulangi hadits Nabi yang diriwayatkan oleh HR. Ahmad itu hingga membuatnya merasakan kebanggaan dan meraih kemenangan serta kemuliaan penaklukan.
Dalam proses persiapan penaklukannya, Al-Fatih memberikan perhatian dalam membangun benteng Roumli Hisar yang berada di bagian Eropa pada Teluk Bosporus, pada titik tersempit yang berhadapan dengan benteng yang dibangun di masa Sultan Bayazid di daratan Asia.
Akan tetapi, imperium Byzantium menghalangi Sultan membangun benteng tersebut dan menjanjikan beberapa pemberian. Al-Fatih bersikeras membangun benteng itu karena menyadari urgensi posisinya secara militer. Hingga akhirnya benteng itu berdiri yang ketinggiannya mencapai 82 m.
Kedua benteng itu mengawasi penyeberangan kapal antara sisi Timur Bosporus menuju bagian Baratnya, dan peluru meriam dari benteng itu dapat keluar menahan kapal laut manapun untuk sampai ke Konstantinopel! Sultan juga memberikan perhatian khusus dalam pengumpulan senjata yang dibutuhkan, salah satunya meriam. Bahkan, beliau memanggil teknisi yang bernama Ourban (Urban) yang sangat ahli dalam membuat meriam. Nah, inilah penciptaan meriam pertama di dunia, dear!
Al-Fatih juga meberikan perhatian khusus atas armada lautnya, agar kompatibel untuk menjalankan perannya menyerang Konstantinopel. Diketahui bahwa jumlah kapal laut yang disiapkan lebih dari 400 kapal laut.
Konstantinopel adalah kota yang dikelilingi perairan laut di ketiga arahnya : Teluk Bosporus, Laut Marmara, dan Teluk Tanduk Emas yang terlindungi dengan rangkaian rantai besi yang sangat besar untuk menahan armada laut yang masuk.
Sultan Al-Fatih terus berusaha menyempurnakan persiapan perangnya untuk menembus Konstantinopel dan menyiapkan peta yang dibutuhkan untuk mengepungnya serta mengumpulkan berbagai informasi. Bahkan, beliau sendiri melakukan kunjungan pengintaian untuk menyaksikan seberapa kuat pertahanan dan benteng yang ada di Konstantinopel.
Al-Fatih lalu mengumpulkan pasukannya sebanyak 250.000 prajurit. Ia menyampaikan sebuah khutbah yang begitu kuat mendorong prajuritnya untuk berjihad merebut kemenangan atau gugur sebagai syahid. Ia mengingatkan mereka untuk rela berkorban dan bersungguh-sungguh bertempur saat berhadapan musuh.
Al-Fatih membacakan ayat-ayat Al-Quran untuk mendorong mereka. Ia juga menyebutkan beberapa hadits Nabi yang memberikan kabar gembira akan penaklukan Konstantinopel serta keutamaan yang akan didapat jika berhasil. Seluruh pasukan menjawabnya dengan gemuruh tahlil, takbir, dan doa.
Tak hanya itu, para ulama pun ikut berjihad bersama Al-Fatih dan pasukannya. Para ulama tersebut menyebar di tengah-tengah barisan sehingga setiap prajurit terpengaruh untuk meningkatkan semangat mereka dan tak sabar menunggu saat pertempuran demi menunaikan kewajibannya.
Pada tanggal 18 April, meriam-meriam berhasil menaklukan salah satu celah pada pagar-pagar benteng yang terletak di Lembah Lycus di bagian barat pagar. Mereka juga berusaha memasuki pagar-pagar lain dengan menggunakan tangga yang mereka pasangkan. Namun, para prajurit Byzantium yang berada di bawah komando Gustanian mati-matian untuk melindungi celah dan pagar benteng tersebut.
Pada hari yang sama, kapal-kapal Utsmani berusaha menyerang Teluk Tanjung Emas dengan menghancurkan rangkaian rantai yang menahannya. Namun, hanya kegagalan yang didapat. Berkali-kali Al-Fatih dan pasukannya bangkit, berkali-kali pula mereka mengalami kegagalan. Tetapi, nyatanya? Mereka masih berdiri tegap, sahabatku!
Hingga suatu ketika, suatu pemikiran ide yang cemerlang terlintas di benaknya. Yaitu memindahkan kapal-kapal dari tempat berlabuhnya menuju Teluk Tanduk Emas dengan menariknya melalui jalan darat di antara dua pelabuhan untuk menjauhi benteng Galota karena khawatir terlihat oleh musuh. Seperti yang kita ketahui, pada saat peperangan, otomatis bagian depan pasti akan terjaga ketat! Sedangkan Teluk Tanduk Emas berada di belakang Konstantin, sehingga lemah pengawasannya. Jarak antara kedua pelabuhan yaitu 3 mil, dan bukan sebuah hal yang mudah untuk melaluinya, karena permukaannya adalah tanah perbukitan dan terjal serta tidak mulus. Al-Fatih pun mengumpulkan bala tentaranya dan menyampaikan idenya.

Dimulailah penetapan rencana tersebut! Mereka mulai mengolesi papan dengan minyak dan lemak, lalu diletakkan di atas jalan yang membentang untuk meluncurkan dan menarik kapal-kapal. Kapal-kapal pun mulai berjalan dari Teluk Bosporus menuju daratan kemudian ditarik di atas kayu-kayu yang telah diminyaki sepanjang 3 mil, hingga tiba di titik yang aman untuk diturunkan ke Teluk Tanduk Emas. Sebanyak 70 kapal berhasil ditarik dan diturunkan di Teluk Tanduk Emas.
Pasukan-pasukan Utsmani terus menggedor titik-titik perlindungan kota itu dan benteng-bentengnya dengan meriam-meriam. Mereka juga berusaha untuk memanjat pagarnya. Karena 'ulah' ini, pasukan Byzantium pun sibuk untuk membangun kembali pagar yang hancur.
Pasukan Al-Fatih pun kembali menyerang dengan cara yang mengagumkan. Mereka membuat lubang-lubang terowongan di bawah tanah dari berbagai lokasi untuk masuk ke dalam kota. Sang Kaisar dan pasukannya pun membuat lubang yang sama untuk berhadapan dengan mereka. Ketika pasukan Utsmani datang, pasukan Byzantium menyiramkan minyak dan materi berbakar lainnya. Banyak pasukan Al-Fatih yang sesak nafas, bahkan ada yang terbakar. Pasukan yang selamat akhirnya terpaksa mundur ke arah dari mana mereka datang. Namun, kegagalan itu tak membuat pasukan Utsmani putus asa.

Pasukan Utsmani kembali menggunakan metode baru, yaitu membangun benteng kayu yang dapat bergerak dan terdiri dari 3 tingkat. Ketinggiannya melebihi benteng pagar Konstantin. Benteng itu ditutupi perisai yang kuat dan air agar tidak bisa ditembus jika diserang oleh api. Pada tingkat atas terdapat para pemanah yang akan memanah siapa saja yang kepalanya muncul di atas pagar benteng.
Setelah itu, Al-Fatih pun melanjutkan peperangan dengan menggunakan meriam (lagi). Karena sering dipakai, akhirnya beberapa meriam itu meledak dan menewaskan para operatornya, termasuk teknisinya, Urban. Akhinrya, ia berupaya mendinginkan meriam dengan menggunakan minyak zaitun. Setelah didinginkan, barulah meriam-meriam itu digunakan kembali.
Sultan dan pasukannya tak henti-hentinya mengingat Allah selagi berperang ataupun ketika sedang tidak berperang. Al-Fatih mengarahkan pasukannya untuk meningkatkan khusyukan, menyucikan diri dan mendekatkan diri kepada Allah dengan shalat, ibadah lain secara umum, serta merendahkan diri dan berdoa di hadapan-Nya.
Pada 28 Mei, berbagai persiapan pasukan Al-Fatih semakin lengkap. Meriam-meriam telah siap menembak Byzantium. Sultan berkeliling mendatangi kemah-kemah pasukannya melakukan pemeriksaan serta arahan dan peringatan untuk selalu mengikhlaskan niat, berdoa, berkorban, dan berjihad. Ia pun menyampaikan khutbah :
"Apabila penaklukan Konstantinopel terwujud untuk kita, maka terbuktilah salah satu hadits Rasululullah dan salah satu kemukjizatannya pada kita. Akan menjadi sebuah keberuntungan bagi kita mendapatkan penghormatan dan pemuliaan yang ada dalam hadits ini. Karenanya, sampaikanlah kepada semua prajurit kita, satu per satu, kemenangan besar yang akan kita raih akan menambah kemuliaan dan keagungan Islam. Setiap prajurit harus meletakkan ajaran Syariat Islam di depan matanya. Jangan sampai ada seorang pun melakukan hal bertentangan dengan ajaran ini. Hindarilah gereja dan tempat-tempat ibadah, jangan ada yang mengganggu! Biarkan para pendeta dan orang-orang lemah yang tidak ikut berperang!"Pada 29 Mei 1453 M, dimulailah penyerangan umum. Orang-orang Byzantium merasa ketakutan. Mereka memukul lonceng-lonceng gereja dan mencari perlindungan gereja.
Serangan terakhir itu dilakukan secara serempak lewat darat dan laut sesuai perencanaan. Seluruh mujahidin merindukan mati syahid! Karenanya, mereka maju dengan penuh keberanian dan pengorbanan, hingga banyak di antara mujahidin itu mendapatkan mati syahidnya.
Serangan itu dilakukan di banyak lokasi, namun dipusatkan secara prioritas di kawasan Lycus yang dipimpin Sultan Muhammad Al-Fatih, dan dilakukan secara bergantian. Setelah kelompok pasukan pertama kelelahan, dikeluarkan pasukan selanjutnya, sementara pasukan Kristen yang melindungi kota kelelahan. Akhirnya, pasukan kedua pun berhasil mencapai pagar-pagar benteng dan meletakkan tangga serta menaruhnya di sana untuk menyerang masuk.
Pertempuran yang sangat sengit juga terjadi di wilayah laut, yang mencerai-beraikan kekuatan pasukan pelindung kota dan menyibukkan mereka di lebih dari satu front pada saat yang bersamaan.
Pasukan Utsmani melanjutkan serangan mereka pada sisi lain kota, hingga mereka berhasil menembus pagar-pagar benteng dan menguasai beberapa menara serta menumpaskan sejumlah pasukan Byzantium di Adarna. Di sana panji-panji pasukan Utsmani dipasang, dan mereka bergelombang masuk ke dalam kota dari titik tersebut. Pasukan Utsmani pun berhasil memasuki kota dari berbagai titik, sementara pasukan pelindung pun melarikan diri.
Muhammad Al-Fatih kemudian berjalan menuju Aya Shopia. Di sana banyak terdapat pastor dan para pendeta. Setelah melihat sikap pemaaf dan toleransi dari Al-Fatih, mereka pun keluar dengan tenang. Beberapa dari mereka menyatakan keislamannya. Dan karena saat itu hari Jumat, Al-Fatih pun menyuruh pasukannya untuk mengubah Aya Shopia menjadi masjid dan menunaikan shalat Jumat bersama di situ untuk pertama kalinya. Salib-salib dan patung-patung semuanya diturunkan. Gambar-gambar dihapus dengan kapur, dan disiapkan mimbar untuk khotib. Dalam buku Muhammad Al-Fatih karya Syekh Ramzi Al-Munyawi mengatakan bahwa boleh saja mengubah gereja menjadi masjid, karena negara tersebut ditaklukkan dengan cara peperangan (beberapa kali Al-Fatih bernegosiasi dengan sang Kaisar untuk berdamai dengan cara menyerahkan Konstantin, namun selalu ditolak), dan mempunyai hukum tersendiri dalam syariat Islam.
Demikianlah perjuangan Al-Fatih dan pasukannya. Beliau berhasil menaklukan Konstantinopel pada umur 21 tahun. Peperangan menaklukan Konstantin berlangsung selama 53 hari. Dan akhirnya, Konstantin pun berubah nama menjadi Islambul (Islam keseluruhan), kemudian kita kenal sekarang ini dengan nama Istanbul.
0 comments:
Posting Komentar